Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Kabar Seni

Ada Sang Penjaga Beji dan Penempa Bara di Sinema Bentara

Dua film dokumenter pendek besutan sineas muda Bali, AAI Sari Ning Gayatri, menjadi bagian dari program Sinema Bentara yang berlangsung di Bentara Budaya Bali (BBB). Pemutaran film yang berlangsung selama dua hari,  Kamis (29/08) dan Jumat (30/08) ini terangkai dalam tajuk “Kisah Sebuah Kota”.

Adapun film karya AAI Sari Ning Gayatri yakni berjudul Penempa Bara (2018) dan Sang Penjaga Beji (2017). Kedua film ini telah meraih berbagai penghargaan serta diputar di ajang festival film bergengsi. Pemutaran film ini didukung oleh Denpasar Documentary Film Festival.

BACA JUGA:  Rainan, di Bulan September 2019

Penempa Bara terpilih dalam Official Selection Organization of World Heritage Cities Video Competition 2019 di Krakow, Polandia. Film berdurasi 15 menit ini mengetengahkan kisah seorang laki-laki muda, Made Gede Suardika menjalani profesi sebagai pande keris pusaka untuk meneruskan tradisi leluhurnya, di tengah berbagai rintangan dan banyaknya pilihan pekerjaan di zaman modern.

Penempa Bara juga meraih penghargaan Film terbaik I Denpasar Film Festival kategori pelajar nasional 2018, Film Terbaik I Denpasar Film Festival kategori Pelajar Binaan 2018, Official Selection Sukabumi Movie Award 2018, Film Terbaik I Festival Film Pelajar Jogja 2018, Film Terbaik III Festival Film Pelajar Jogja 2018, Film Terbaik I Festival Film Dokumenter Budi Luhur 2018, Official Selection Malang Film Festival 2019.

BACA JUGA:  Serap Isu Terkini, Komunitas Nitirupa Gelar Pameran Samya

Sementara dalam film Sang Penjaga Beji, berdurasi 5 menit, menuturkan keadaan Pura Beji terkait fungsi, aktivitas spiritual, dan ancaman yang ada melalui penuturan Jro Mangku Wija, yang ditunjuk secara niskala sebagai penjaga Pura Beji di Kesiman. Pura Beji merupakan salah satu pura terpenting di Bali, karena fungsinya sebagai “penyengker” atau penjaga sumber-sumber air di Bali.

Belakangan ini, beberapa Pura Beji terganggu keberadaannya akibat perubahan lingkungan di sekitarnya. Jenis gangguan tersebut antara lain menyurutnya air yang mengalir di beberapa pancuran Pura Beji akibat berkurangnya pohon-pohon di kawasan hulu dan semakin banyaknya rumah-rumah di sekitar pura yang menyedot air bawah tanah melalui sumur bor.

Film ini meraih penghargaan Film terbaik I Denpasar Film Festival kategori Pelajar Binaan 2017, Official Selection Organization of World Heritage Cities Video Competition 2017, Film Terbaik I Festival Film Batavia 2017, Official Selection Festival Film Surabaya 2018, Official Selection Festival Film Banten 2017.

Selain dua dokumenter tersebut, diputar pula film dokumenter yang disutradarai Jay Subiakto yakni Banda, The Dark Forgotten Trail. Film produksi tahun 2017 tersebut merunut kembali jejak kesejarahan di Kepulauan Banda. Pada abad pertengahan, di mana pala menjadi komoditi paling berharga di Pasar Eropa, Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh menjadi kawasan yang paling diperebutkan.

BACA JUGA:  Soto Sapi 57, Gurih dan Membuat Ketagihan

Diungkap dalam dokumenter Banda bagaimana upaya Belanda yang bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Di sana pula, sebuah semangat kebangsaan dan identitas multikultural lahir menjadi warisan sejarah dunia.

Film ini meraih penghargaan Piala Maya untuk Film Dokumenter Panjang Terpilih 2017, serta nominasi Piala Iqbal Rais untuk Penyutradaraan Berbakat Film Panjang Karya Perdana 2017, Piala Citra untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik 2017, Piala Maya untuk Tata Kamera Terpilih 2017, Piala Maya untuk Penyuntingan Gambar Terpilih 2017.

Bukan dokumenter saja, program Sinema Bentara menayangkan pula dua film cerita terpilih yang juga telah meraih berbagai penghargaan. Antara lain berjudul Les Parapluies De Cherbourg (Prancis, 1964) serta Umberto D. (Italia, 1952). Dua film ini menggambarkan bagaimana kompleksitas serta pergulatan individu-individu di sebuah kota, berhadapan dengan situasi sosial dan lingkungan dalam konteks zaman tersebut.

BACA JUGA:  Dukung Program Pemprov Bali, GP-Bali Sukses Digelar Pelatihan

The Umbrellas Of Cherbourg, film musikal empat babak yang berlatar sebuah kota di Prancis tahun 1957. Seorang wanita muda terpisah dari kekasihnya oleh perang, ia mengahadapi dilema pilihan yang menentukan hidup mendatang. Film ini mendapat nominasi Best Music, Original Song, Score dan nominasi Best Foreign Language Film pada Academy Awards 1966 , nominasi Best Foreign Language Film pada Golden Globes USA 1966, penghargaan OCIC Award, Palme d’Or dan Technical Grand Prize pada Cannes Film Festival 1964, nominasi Best Original Score Written for a motion Picture pada Grammy Awards 1966, dan Prix Louis Delluc 1963.

Di sisi lain, film Italia yang berlatar pasca perang dunia II, mengisahkan Umberto Domenico Ferrari, seorang lelaki tua miskin di Roma yang berusaha keras untuk tetap tinggal di kamar sewaannya. Ini adalah salah satu film neoralis Italia dan termasuk di dalam “All-TIME 100 Movies” majalah TIME pada tahun 2005. Sang sutradara, Vittorio De Sica, dinominasikan untuk Grand Prix – 1952 Cannes Film Festival atas film ini. Penghargaan Critics Circle New York Film untuk Film Asing Terbaik (1955) dan Cesare Zavattini dinominasikan untuk Academy Award untuk Cerita Terbaik di Academy Awards ke- 29 pada tahun 1957.

Program ini diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama di ruang terbuka yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung juga oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI, BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT; Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, dan Udayana Science Club. Turut memaknai pemutaran film dihadirkan pula Bincang Sinema bersama Ari Setiya Wibawa,ST.,MM.,IAI.,GP, seorang arsitek, pengamat dan praktisi tata kota. (Red/Dhi/Rls)