Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Batur Gelar Metatah Masal – kabarbali.id
SosPol

Batur Gelar Metatah Masal

Untuk pertama kalinya, Desa Batur Utara, Kintamani, Bangli menggelar upacara metatah massal bagi kramanya. Upacara matatah massal diikuti 124 orang (62 pasang laki-laki dan perempuan) tersebut digelar di Kantor Kepala Desa Batur Utara, Senin (16/12).

Upacara yang penyelenggaraannya didukung oleh Paguyuban Widya Swara ini dipuput oleh Ida Pandita Mpu Dhaksa Yoga Eka Wisesa dari Griya Alas Arum Tegal Wangi Denpasar. Prosesi diawali dengan uypacara menek kelih, kemudian dilanjutkan dengan prosesi makala-kalan dan ngekeb, dan macicipan.

Baca Juga : Persadha Nusantara Deklarasikan Empat Pilar NKRI

Jero Mekel Batur Utara, I Made Tasdinas, mengatakan prosesi macicipan merupakan prosesi matatah yang hanya ada di Desa Pakraman Batur. Prosesi ini merupakan prosesi matur piuning ke Pura Ulun Danu Batur. “Rangkaiannya diawali dengan mapeed yang dilaksanakan dari Desa Batur Utara menuju Pura Ulun Danu Batur yang disaksikan pula oleh Jero Gede Batur, Jero Balean, Jero Penyarikan Desa Pakraman Batur, prebekel ketiga Desa Dinas Batur, serta tokoh masyarakat Batur.

Ini bermaksud memberitahukan kepada tokoh-tokoh masyarakat setempat dan memohon restu dan anugrah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” jelasnya dalam kegiatan yang juga diisi dharma wacana oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda.

Setelah melalui prosesi tersebut, peserta kembali berkumpul ke tempat upacara untuk melakoni prosesi, ngerajah, sungkeman, dan matatah. Uniknya, prosesi matatah tersebut dilakukan dengan mengedepankan tatwa dan kesehatan. Dalam prosesi tersebut, gigi yang diasah kurang dari 2 mm untuk menghindari kerusakan email gigi.

Perwakilan Paguyuban Widya Swara, Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta mengatakan proses matatah yang higienis wajib dilakukan, sebab gigi merupakan komponen yang sangat penting dalam organ tubuh. Untuk menjaga higienis tersebut, para sangging yang melaksanakan prosesi tersebut juga diharuskan menggunakan masker dan slop tangan guna menghindari penularan kuman dari sangging ke peserta demikian pula sebaliknya.

“Alat yang digunakan juga harus higienis, satu peserta satu kikir, sehingga penularan kuman seperti hepatitis, TBC, herpes, dan ribuan kuman lain dapat dihindari. Karena pesertanya ratusan, maka aspek kesehatan harus kita perhatikan namun tidak meninggalkan tradisi setempat,” katanya dalam upacara yang diakhiri dengan Pawintenan Saraswati dan pajayan-jayan.

Uniknya, dalam upacara ini terdapat sejumlah keunikan yang merupakan ciri khas Batur. Dalam prosesi matatah, pihak penyelenggara menggunakan tebasan agung dan rosan, berbeda dengan penggunaan ayaban di daerah lainnya. Bentuk banten ini mirip dengan bebangkit, tapi masih dibawah ayaban bebangkit. (Red/Rls)

Comments

comments