Kabar Seni

Black Burn Bangkit, Ini Kisahnya No ratings yet.

Semakin tua, semakin menjadi itulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan Black Burn band bergendre clasic rock asal Denpasar ini.  Berawal dari tribute Iron Maiden, Komang Agni – drum, Mang Natha – vocal, Kadek Mulyawan dan Ida Bagus Nadi – gitar, serta Agus Yudi – bass memutuskan untuk membuat sebuah karya original dan rencananya akan rampung awal tahun 2019.

Baca Juga : Kolaborasi Asik The Hydrant dan Sunmantra, Jadi Pembuka Franz Ferdinan

“Kami saat itu (2017-red) benar-benar ingin pensiun setelah konser, lalu melihat semangat senior kami dan juga rekan kami, semangat itu kembali terbakar untuk tetap berkarya,”jelas Mang Natha sang vocalis dihadapan awak media. Senin, (26/11).

Black Burn sendiri merupakan sebuah band yang lahir era 90’an dengan mengawali karirnya sebagai band cover clasic rock. Mang Natha menuturkan sebelum Black Burn terbentuk masing-masing personel sebelumnya tergabung dengan band lain namun masih sering bertemu. “Lalu kami sepakat untuk membentuk sebuah band baru untuk tribute Iron Maiden,”katanya.

Namun band ini sempat tertidur selama 20 tahun pasca kepergian sang basis alm. Gung kak, personel awal mereka. “Kami tidak benar-benar vacum, cuma tidak seaktif dulu,”imbuh Natha.

Lalu masuknya Agus Yudi mengisi posisi bass semakin membakar jiwa para personel band yang juga langganan sebagai juara festival rock kala itu. Kini, mereka pun sepakat untuk kembali membakar semangat para penikmat musik clasic rock melalui ajang “Brother in One” yang akan digelar pada 1 Desember 2018 mendatang di Warung Mina Peguyangan, Denpasar.

Natha mengatakan dalam ajang tersebut bukan sebagai konser tunggal Black Burn sebagai tanda kemunculannya namun mereka menggandeng sebanyak 14 band yang akan tampil sejak pukul 16.00 hingga 23.00 wita. “Nanti beberapa band akan jamming bareng beberapa band pengisi acara juga dan black Burn sendiri tampil dengan empat lagu, dua diantaranya dibawakan saat pertengahan dan sisanya diakhir acara,”paparnya.

Baca Juga : Masekepung Ajak Fansnya Megibung

Tidak ingin dicap sebagai band cover seumur hidup, mereka pun telah merencanakan untuk menggarap sebuah mini album karya mereka sendiri, bahkan empat lagu telah mereka kantongi. “Menjadi diri sendiri itu adalah yang utama dan mini album ini kami targetkan selesai tahun 2019,”katanya lagi.

Terkait keberadaan genre rock khususnya clasic rock, natha mengatakan jika saat ini dan selamanya clasic rock tak akan pernah mati. Pihaknya juga sangat merindukan era 90’an dimana vocal lelaki mampu menyaingi suara vocal wanita. “Saat ini saya dengar lebih ke arah pop dan cendrung datar. Saya rindu masa itu,”kenangnya.

Ia juga berharap melalui konser itu penggemar clasic rock dapat terhibur dan kembali merasakan bagaiman keseruan pada massa itu. “Ya. Saat ini kami hanya ingin menyebarkan clasic rock dari sisi postif saja karena eranya sudah berbeda,”tututp Natha. (Red/Rls/Mik)

Please rate this

Comments

comments

Related Posts