kabar Utama

Catatan Musik 2018 dan Prediksi Tahun 2019

Perkembangan musik di Bali pada tahun 2018 dianggap mengalami perkembangan cukup bagus, sebagai bukti banyaknya karya yang diluncurkan setiap bulan.

Hal itu disampaikan langsung oleh Bagus Mantra selaku founder dari Pregina Artshowbiz saat dikonfimasi melalui pesan singkat. Jumat (21/12).

Baca Juga : UNIK! Umat Kristiani Gelar Misa Natal menggunakan Pakaian Adat Bali

Ia mengatakan perkembangan musik di Bali secara menyeluruh tidaklah terpengaruh oleh isu pasang surutnya pasar atau berkurangnya daya beli pasar terhadap karya yang dikeluarkan. “Mereka tetap berkarya baik dirilis secara digital atau fisik dan saya rasa masing-masing telah memiliki pasar,”ungkapnya.

Pria yang juga founder dari event Bali Blues Festival ini menyoroti sisi panggung musik yang mewarnai Bali baik dari event skala kecil hingga panggung besar. Hal itu pun juga menurutnya tak bisa dilepaskan begitu saja sehingga para musisi tetap mampu menjaga eksistensinya.

Ia menilai bangkitnya musik reggae khususnya di Bali bukan karena satu atau dua band melainkan dikarenakan bangkitnya komunitas yang suka terhadap genre tersebut. “Ada hubungan khusus antara karya, artis dan penikmatnya sehingga semakin kuat kalau genre sih relatif,”papar pria yang mengaku sedang berada di Jogja ini.

Tidal sapai disana, ketika ditanya terkait bangkitnya band dan pecinta klasik rock, ia mengakui jika hal itu disebabkan oleh adanya keinginan untuk berkolaborasi, bernostalgia dan tentunya tampil di atas panggung. “Kabarnya mereka juga aktif menciptakan lagu sendiri,”ungkapnya.

Disisi lain, Made Adnyana salah satu pengamat musik dan wartawan senior menjelaskan jika berdasarkan panggung, genre rock dan reggae memang masih mendominasi di tahun 2018 ini, namun menurutnya jika melihat dari kecendrungan genre, pop masih lumayan kencang. “Ini bisa dilihat dari naiknya Harmonia band, juga beberapa lagu yang viewer nya di Youtube tembus 1 juta lebih,”katanya.

Selain itu, bangkitnya beberapa musisi lawas seperti BlackBurn sebagai tanda jika mereka masih tetap ada dan berkreasi. Tapi menurutnya kebangkitan itu bukan lagi sebagai popularitas melainkan sebagai bentuk eksistensi diri. “Kalau keluarkan karya untuk boom seperti jamannya, mungkin agak susah,”imbuhnya.

Ia menyayangkan banyaknya musisi atau penyanyi yang muncul tidak diimbangi dengan “promosi dan menjual karyanya masing-masing. “Karya mereka bagus namun ya akhirnya cuma menghiasi media sosial atau youtube dengan view yang minim,”paparnya.

Ia menyarankan kepada siapapun yang berkarya di era sekarang ini harus pintar self marketing, pencitraan, membuka link termasuk menjalin hubungan dengan media. Dilain pihak ia juga menyoroti lirik dan video clip yang cendrung monotone. “Lirik lagu dan video clip ini perlu menjadi perhatian, ini poin penting,”imbuhnya.

Menurutnya, hal yang menarik di tahun 2018 ini adalah kemudahan teknologi yang membuat siapapun jadi lebih mudah untuk membuat karya.

“Sayangnya tak semua dibarengi dengan perhatian dan tanggungjawab yang cukup kuat bahwa satu karya yang dipublish bukan semata hanya untuk kepuasan si pencipta, tetapi juga ada tanggungjawab untuk menghasilkan karya yang “sehat” dan menghibur pastinya,”terangnya.

Ditanya preiksi tahun 2019 apakah rock atau reggae masih menduduki puncak musik, ia tidak berani menyimpulkan sebab menurutnya genre pop juga diam-diam digemari. “Malah saya menduga, mungkin akan ada “kerinduan” akan karakter lagu pop Bali beberapa tahun silam, dan ini akan menjadi peluang bangkit atau kembalinya beberapa nama penyanyi pop Bali lawas,”tutupnya.(Red/Ton)

Comments

comments

Related Posts