Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cupak Meborbor, Bius Penonton PKB ke 40 – kabarbali.id
Kabar Seni

Cupak Meborbor, Bius Penonton PKB ke 40

kabarbali.id — Satu penampilan yang ditunjukkan oleh duta kota Denpasar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke 40 adalah kolaborasi antara Wayang Kulit dan Babondresan dengan judul “Cupak Meborbor”. Selasa (17/7) malam.

Dalam penampilan itu, penonton digiring dan dibius oleh sebuah atraksi yang cukup fantastis dimana pemeran Cupak beberapa kali berlarian dan menghancurkan gunungan api yang dibuat dari serabut kelapa sembari sesekali memakan ayam yang masih hidup. Gelak tawa dan histeris penonton malam itu pun menambah sisi magis dari pertunjukkan yang dimulai sejak pukul 20.00 wita.

Baca Juga : PKB Rawan Garong, Wartawan Kehilangan Helm

Penuturan Jro Dalang Wayan Surna yang bertindak selaku dalang sekaligus sutradara pementasan bahwa penampilan itu adalah kali pertama dalam sebuah kolaborasi yang menurutnya itu adalah penampilan spesial yang ia tujukan kepada Pemerintah Provinsi Bali. “Saya sudah memasuki masa purna bakti Desember ini, jadi ini adalah kado untuk Pemprov Bali, pertunjukan ini adalah pertama kali dan khusus dipentaskan di PKB,”terangnya.

Perlu waktu dua bulan untuk mempersiapkan pertunjukkan tersebut dimana tidak sembarang orang bisa memerankan karakter Cupak. “Yang menarikan Cupak sih banyak tapi yang mampu menghidupkan ‘Taksu’ itu yang susah kita cari,”katanya.

Menurutnya, pemilihan judul “Cupak Mebakar” sebagai perwakilan dari tema PKB tahun ini. “Api itu adalah tegana, dan sebagai orang Bali tentu tidak bisa di lepaskan begitu saja dengan api yang juga bisa dikatakan sebagai sumber kehidupan,”ucap pria kelahiran 31 Desember ini.

Dia juga mengaharapkan jika regenerasi seniman khususnya pawayangan tidak terputus begitu saja sebab menurutnya untuk menjadi dalang tidak harus berdasarkan keturunan namun bisajuga dipelajari. “Kalau dulu mungkin saja harus berdasarkan keturunan namun saat ini seni pedalangan bisa kita pelajari dengan harapan generasi tidak akan terputus,”imbuhnya.

Disisi lain ketua dari Sanggar Taman Giri Agung, Anak Agung Gede Oka saat dikonfirmasi mengaku jika penampilan malam itu dibuat lebih sederhana dari rencana awal. “Ya. Kita lihat durasi yang dikasi ternyata tak cukup jadi kita banyak lakukan pemangkasan,”ucapnya sembari mengatakan yang terlibat dalam pementasan sektiar 20 orang.

Wayang Cupak ini memang terbilang langka yang menceritakan dua watak berbeda putra Bhatara Brahmadimana Cupak sendiri dilambangkan dengan karakter angkuh, rakus dan Gerantang justru sebaliknya. (Red/Zul/End)

Video dari pihak ke 3