Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Gede Phaii : Saya Kesulitan Berbahasa Bali – kabarbali.id
Kabarbali.id

Gede Phaii : Saya Kesulitan Berbahasa Bali

kabarbali.id – Gede Sutaya atau lebih akrab disapa dengan Gede Phai, di tahun 2014 lalu ia sempat membentuk sebuah band berbahasa Bali yang dikenal dengan sebutan Rajapala Sakit Gigi (RPSG). Namun kini, ditengah kesibukan masing-masing personel, RPSG tampak mulai memudar, Gede Phai sendiri saat ini tengah disibuk dengan projek pribadinya.

Ia sempat menyangkal dengan tegas, saat ditanya kabar jika RPSG sudah bubar, lantas apa penjelasan Gede Phai saat dikonfirmasi melalui pesan singkat? Dalam perbincangannya dengan kabarbali.id Rabu, 27 Desember 2017, Gede Phai juga bercerita banyak seputar kesibukannya belakangan ini. Mari simak obrolan santai kabarbali.id bareng pria asli Singaraja ini…..

Bagaimana tanggapan anda dengan issue RPSG bubar?

Mungkin sedikit latah, band yang lama tidak berkarya (vacuum) malah dikabarkan bubar, nah ini yang terkadang tidak habis pikir saya. Saya tegaskan disini, RPSG tidak bubar, ditengah kesibukan masing-masing personel, RPSG tetap sesekali menyempatkan diri untuk kumpul sembari siapkan materi, semua perlu proses jadi bersabarlah.

Lalu bagaimana bisa RPSG vacuum sedangkan anda sendiri membuat projek solo?

Ya karena memang kerjaan saya seperti ini, saya hidup dari dunia seni dan seni adalah jiwa saya, saya memiliki waktu yang cukup fleksibel sedangkan rekan lainnya tidak, nah inilah yang menjadi salahsatu kendala di tubuh RPSG, percayalah jika membuat sebuah karya tidaklah cukup dalam waktu semalam. Jiwa saya sudah dibidang seni, terlebih seni musik.

Gede Phai. Image/ ist

Dalam lagu yang berjudul Rimba Dunia yang sudah beredar di jejaring sosial, ini  terdengar cukup berbeda baik dari nuansa musik dan liriknya, pun sekarang berbahasa Indonesia. Apakah  seorang Gede Phai akan benar-benar banting stir ke industri musik indie?

Jadi begini, lagu yang sudah beredar itu (Rimba Dunia , Jika Tiada Esok dan Sekawan) adalah soundtrack dari film Napak Pertiwi dan semua berbahasa Indonesia. Ya sebuah kebetulan juga saat ini saya memang tengah terlibat dalam sebuah projek film yang berjudul Napak Pertiwi dan ketiga lagu itu saya yang dipercaya untuk menulisnya sendiri. Secara pribadi untuk saat ini tidak memiliki keinginan untuk pindah ke indie musik ataupun tetap berbahasa Bali, meski saya kesulitan dalam membuat lirik berbahasa Bali.  Saya sendiri memang cukup nyaman dan mudah membuat lagu dalam berbahasa Indonesia, saya ingin mencoba sesuatu yang baru, makanya saya mencoba untuk melantukan musik dengan genre Pop Sederhana, kalian tidak akan menemukan suara perkusi di musik saya nantinya. Ya karena ini memang keinginan saya untuk benar – benar menjadi diri saya sendiri tanpa ada embel-embel ini dan itu.

Apakah lagu tersebut nantinya akan dijadikan sebuah album?

Itu sudah saya rencanakan, akan saya buatkan sebuah mini album dengan konsep yang berbeda terutama dari fisiknya. Jadi nantinya yang membeli kaset saya, tidak hanya sekedar membeli lalu dilupakan begitu saja, disini yang membeli sekaligus akan kita aja menumbuhkan rasa kesadaran dalam mendaur ulang sampah, mungkin terdengar sudah tak asing lagi, tapi sayayakin masih banyak yang belum kreative dalam mengolah sampah.

Jadi kapan target anda untuk meluncurkna mini album ini?

Dalam mini album saya, akan beerisi 5 lagu, 3 lagu berbahasa Indonesia full dan sisanya tetap berbahasa Bali dan target saat ini sih, 5 maret 2018 sudha diluncurkan dan semoga dilancarkan, minta doa dan dukungannya ya.[GD/RED]

BACA JUGA:  Temukan chemistry, Bali Flare Tandem Competition kembali di Gelar HBI