Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Hari Harsananda : Antara Landep, Keris dan Mobil – kabarbali.id
Gumi Bali

Hari Harsananda : Antara Landep, Keris dan Mobil

Justifikasi keberagamaan seseorang pada taraf manifest itu sering sekali terjadi. Dimensi rupa yang berbeda sudah menjadi alasan kuat untuk menyalahkan dan mencibir segala niat baik seseorang.

Sebagai contohnya seperti Tumpek Landep kemarin. Tak sedikit unggahan yan mulai menjustifikasi kesalahan dalam “NGEBANTENIN MOTOR”.

Baca Juga: Gurita Raksasa Muncul di Brawa Beach Festival

Tumpek Landep adalah momen kita (umat hindu Bali) menajamkan dan meruncingkan pikiran, maka dari itu salah sesungguhnya kalau yang dibantenin itu motor dan mobil.

Kemudian, apakah “Ngebantenin Motor dan Mobil” itu salah dilakukan pada saat Tumpek Landep? Adakah benang merah yang menghubungkan antara Tumpek Landep dan Kendaraan Bermotor?

Ketajaman pikiran sesungguhnya dapat diejawantahkan dalam sebuah kondisi bernama Konsentrasi. Simbolisasi menggunakan Senjata dalam peringatan Tumpek Landep sendiri sesungguhnya tak serta merta merujuk pada senjata dengan ketajamannya, melainkan merujuk pada pikiran yang terkonsentrasi ketika mengaplikasikan senjata tersebut.

Terbayang jika ketika kita menggunakan senjata tajam tidak dalam kondisi pikiran yang terkonsentrasi maka senjata itu dapat mencelakaan diri kita sendiri. Maka dari itulah Tumpek Landep diperingati setelah Hari Raya Saraswati.

Pengetahuan yang telah didapat ibarat senjata, namun dengan pikiran yang tajam kita mampu mengolah pengetahuan tersebut untuk kepentingan yang baik karena sejatinya pengetahuan ibarat pisau bermata 2 yg dapat menguntungkan dan merugikan bagi pengguna dan sekitarnya.

Lalu, kaitannya dengan kendaraan seperti apa?

Hindu merupakan agama dengan simbolisasi yang beragam, Tumpek Landep yang disimbolkan dengan senjata tajam merupakan hasil produk kebudayaan agraris dari masyarakat Bali, sedangkan dengan semakin bergesernya kebudayaan masyarakat Bali ke ranah industri, masyarakat golongan Ksatria yang biasa bergulat dengan Keris kemudian masyarakat agraris yang biasa bergulat arit, cangkul, dan perkakas tajam lainnya pun mulai bergeser ke instrumen yang lebih modern, salah satunya kendaraan.

Baca Juga: Ketika Remaja Terlibat Penjurian Film Pendek Internasional

Benang Merah diantara kedua instrumen ini sesungguhnya adalah KONSENTRASI itu sendiri. Menggunakan senjata tajam dan berkendaran sama – sama memerlukan Konsentrasi. Jika tidak kita yang berkendara bisa saja berujung di bawah ban truk, di bawah jurang atau mungkin bisa menabrak orang lain.

Maka dari itulah, implementasi ketajaman pikiran diera kekinian tak hanya dilihat dari wujud – wujud simbolik saja. Melihat sebuah fenomena selayaknya juga wajib menganalisa aspek nomenanya. Sebab jika hanya melihat casing serta  menganalisa ide di baliknya merupakan langkah awal melatih ketajaman Pikiran.

Kesimpulannya, salahkah “ngebantenin motor dan mobil” saat  Tumpek Landep?

Jawabannya tentu saja tidak, selama yang merayakan tersebut mampu menangkap ide di balik perayaan itu dan tidak hanya ikut – ikutan atau dalam istilah Bali-nya “Milu-Milu Tuwung”. (Red/Hari Harsananda)