SosPol

Jelang Galungan dan Kuningan, Peradah Bangli “Ngejot”

Jelang perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan yang jatuh pada Rabu (26/12/18) dan Sabtu (5/1/19), Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu (DPK Peradah) Indonesia Bangli memfasilitasi umat sedharma dan masyarakat umum untuk bersama-sama ngejot pada krama Bangli yang membutuhkan. Aksi sosial itu menyasar 20 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Bangli.

Baca Juga : 2019, Ubud Masih Potensi Kuliner Tradisional

Kegiatan itu merupakan hasil dari synergitas Dewan Pimpinan Provinsi Peradah Indonesia Bali dengan DPK Peradah Indonesia se-Bali yang ide awalnya datang dari DPP Peradah Indonesia Bali. “Ini kami lakukan dengan sederhana sebagai bagian dari konsep Tri Hita Karana yakni hubungan manusia dengan sesama,”ucap I Putu Rusmadi selaku panitia kegiatan tersebut saat dikonfirmasi secara terpisah. Senin, (17/12)

Ia menegaskan posisi organisasi Peradah dalam kegiatan itu hanya sebagai fasilitator yangmana sumber bantuan berasal dari para donatur yang datang dari berbagai kalangan. “Kami menggalang bantuan tersebut melalui berbagai sumber,”ungkapnya mengucapkan terimakasih atas partisipasi donatur.

Selain itu, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli, yang juga disambut dengan sangat baik. Namun, rencananya, donasi baru akan didistribusikan berdekatan pada Hari Galungan bersama-sama beberapa OPD di lingkungan Pemkab Bangli. “Sebagai bentuk edukasi ke sasaran, donasi, ‘jotan’ juga kami lengkapi dengan tulisan kecil terkait esensi Galungan dan Kuningan, sehingga ada nilai edukasinya, bukan hanya menerima jotan,” tandasnya.

Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli, I Ketut Eriadi Ariana, menambahkan, “Peradah Ngejot” merupakan bentuk revitalisasi terhadap kearifan lokal “ngejot” yang selama ini eksis di Bali. Tradisi “ngejot” (memberikan sesuatu pada orang lain saat memiliki hajatan tertentu) dinilai memiliki sejumlah kearifan yang semestinya diteladani, salah satunya adalah nilai solidaritas dan pluralitas. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan, “ngejot” tidak saja terbatas pada membagi sesuatu antar krama banjar atau krama desa, tapi juga antar wangsa, bahkan antar umat beragama.

“Melalui aksi ini kita juga ingin menegaskan dan semoga memberi penyadaran, bahwa beragama bukan sekadar menyembah kepada Tuhan dalam bentuk ritus atau japa. Memuliakan manusia, memuliakan alam justru menjadi sangat penting. Namun, mirisnya ini seringkali dikesampingkan,” ucap alumnus Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana ini.

Fenomena kini, lanjutnya, orang-orang rela jor-joran melakoni ritual, namun menutup mata pada kondisi tetangganya yang tengah kesulitan finansial atau kondisi alam yang kian memburuk. Bisa ke pura dengan pakaian serba mewah, tapi “membawa dan buang sampah” di pura. Melakoni tawur dan caru, namun mencemari sungai, danau, atau menebang hutan. “Hal ini salah satu bentuk kegelisahan kami, dan jalan satu-satunya yang dapat ditempuh adalah membenahi diri bersama-sama, mengkoreksi diri bersama, disamping peningkatan pemahaman tatwa warisan leluhur,” tambahnya.

Melalui aksi tersebut, pemuda kelahiran Batur, Kintamani ini pun berharap dapat memantik aksi-aksi sejenis di segala bidang. “Nanti semoga kita bisa terus gerakkan secara berkesinambungan, tentu dengan dukungan semua elemen masyarakat. Sebab, kami pemuda sifatnya hanya sebagai fasilitator, hanya punya semangat, ide, dan idealisme,” pungkas Eriadi. (Red/Rls/Jik)

Comments

comments