Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Lawar Gedang dan Lawar Pusuh, Pernah Mencoba? – kabarbali.id
Food

Lawar Gedang dan Lawar Pusuh, Pernah Mencoba?

Sehari menjelang perayaan Galungan atau Kuningan biasanya warga Hindu Bali menjalankan yang namanya penampahan. Pada saat ini selain membuat penjor dan mempersiapkan sarana upacara untuk Galungan, biasnaya warga akan membuat aneka kuliner khas seperti tum, jukut, urutan hingga lawar yang secara umum terbuat dari bahan dasar daging.

Nah, berbeda dari biasanya, Mulberry Place Restauran, di Singkerta, Ubud yang juga menyajikan lawar dengan bahan dasar berbeda yakni pepaya atau dalam bahasa Bali dikenal sebagai gedang. Lawar Gedang, demikian namnya, kuliner ini merupakan menu traditional yang belakagan juga mulai susah ditemui di Bali.

BACA JUGA:  Peranan Strategis Penyuluh Untuk Indonesia Maju

Gedang yang digunakan lebih sering biasanya yang masih muda. Awalnya gedang di kupas kulinetnya kemudian direbus dan di potong kecil-kecil. Sama halnya seperti sayur urab, lawar gedang dijadikan menu makanan pembuka karena kesegaran rasa dari pepaya muda serta jeruk lemo yang digunakan. Hal ini tentunya menjadi referensi makanan pembuka yang khas dari Bali.

Sang Chef, Johny Sanjaya mengatakan, jenis sayuran ini cukup favorit dari beberapa menu makanan pembuka yang disediakan. Untuk memberikan rasa segar dan lembut sehingga tekstur rasanya pas dilidah wisatawan, Chef Jhony mengaku, menyesuaikan  takaran bumbu yang digunakan (tidak pedas).

Tekstur rasanya tidak sepedas lawar Bali dengan banyak tambahan bumbu. Beberapa bahan yang digunakan, yaitu pepaya muda, daging ayam, jeruk lemo, parutan kelapa, serta sambel matah untuk campuran daging ayam.

Bumbu yang digunakan adalah bumbu bali dengan pengurangan takaran cabai. Dari sekian menu yang ada, 40 persen merupakan menu makanan lokal yang ditawarkan di hotel bintang lima ini.

BACA JUGA:  Nikmati Promo Asik dari Hotel Santika Siligita

Masih dikawasan Ubud, Padi Restaurant yang terletak di Mambal, Badung ini menyajikan kuliner lawar dengan bahan dasar yang berbeda. Lawar Pusuh namnya, Pusuh atau dalam bahasa Indonesia berarti jantung pisang adalah kuliner khas yang sebenarnya sudah ada sejak lama namun keberadaannya kini mulai susah ditemui.

“Tujuannya yaitu,  kami ingin menghadirkan pengalaman rasa kuliner yang baru di pasar pariwisata Bali,” jelas Chef Sugata selaku Executive chef Padi Restaurant, saat ditemui dilokasi. Senin (22/7).

Sebenarnya, kuliner ini termasuk jenis salad, sayuran yang dikombinasikan dengan beberapa bahan lokal lainnya. Awalnya jantung pisang direbus hingga matang, kemudian dipotong kecilkecil dan diperas agar kadar air menjadi berkurang. Kemudian, jantung pisang dicampurkan dengan Bumbu suna Cekuh dan disajikan.

BACA JUGA:  Bali Menjadi Saksi Berkumpulnya International Watercolor Society

Meskipun merupakan bumbu tradisional khas Bali, namun dari bahan pelengkap lainnya olahan jantung pisang ini memiliki tampilan dan rasa yang unik. Selain menggunakan bumbu dasar bawang putih dan kencur (suna, cekuh) jantung pisang ini juga dicampur dengan beberapa bahan lain, seperti air lemon, jeruk bali dan daun ketumbar. Dengan menggunakan bahan-bahan tersebut, maka dari segi tampilan olahan ini lebih mirip dengan salad dibandingkan dengan sayur jantung pisang.

Dari segi rasa, olahan Jantung Pisang suna cekuh ini memiliki perpaduan rasa gurih dengan sensasi asam yang menyegarkan. “Kami memang sengaja menampilkan olahan jantung pisang dengan tampilan dan rasa yang berbeda, sehingga bisa diterima oleh wisatawan asing,” ungkapnya.

(Red/Dhi/Jik)