Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Peristiwa

Media Diharapkan Edukasi Masyarakat Soal Sampah di Bali

Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Hukum Nyoman Budi Adnyana,SH.MH.CLA mengatakan, media memiliki peran yang sangat penting dalam mengedukasi masyarakat terutama soal sampah. Hal ini disampaikan dalam diskusi terbatas jelang pelantikan Ketua dan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Media Online Indonesia (MOI) Provinsi Bali di Hotel Best Western Kuta Bali, Kamis (26/9).

Menurut Budi Adnyana, media sangat berperan dalam edukasi masyarakat tentang sampah. “Sesuatu yang salah saja, bila diberitakan secara terus-menerus, maka dia akan menjadi ‘kebenaran’.

Apalagi kebenaran yang diberitakan terus – menerus maka dia akan sangat berdampak, berubah menjadi budaya yang bisa dihayati oleh setiap masyarakat. Hal yang sama juga terjadi dengan sampah di Bali. Saya minta media selalu menyisipkan dalam setiap pemberitaannya untuk edukasi tentang dampak negatif penggunaan sampah plastik sekali pakai di Bali,” ujarnya.

Pemberitaan wartawan dalam membangun Bali terutama di bidang sampah maka media juga perlu mengedukasi masyarakat dalam manajemen sampah.

Menurutnya, hal ini sangat penting karena Bali adalah destinasi wisata, Bali adalah etalase Indonesia di mata dunia. Saat ini wisatawan asing yang datang ke Bali sudah mencapai 6,5 juta wisatawan asing. Wisatawan domestik sebanyak 10 juta, kemudian ditambah dengan warga Bali sebanyak 4,2 juta. “Bisa bayangkan ada pergerakan manusia hingga berjumlah 20 juta orang pertahun di Bali.

Berarti ada efek yang bergerak, dan pasti ada banyak sampah. Dampak ikutan ini harus dipikirkan. Bila tidak ditangani dengan baik maka para kompetitor akan menang. Tawaran dari negara lain sangat menggiurkan,” ujarnya.

Dengan banyaknya populasi maka sampahnya akan semakin banyak pula. Lebih jauh staf ahli gubernur Bali ini mengatakan sampah di Bali berada pada 4,281 ton perhari. Lalu pertahunnya ada 1,5 juta ton.

BACA JUGA:  Aksi Damai Dukung Polri, Driver Ojol Teriak "Bali Aman Penghasilan Gojek Lancar"

Ini adalah data terakhir dari penelitian Bali Partnership kerja sama dengan  Universitas Udayana Bali dengan Pemerintah Norwegia, yang memberikan bantuan sebesar Rp 7 miliar dengan rentang waktu dari Januari-Mei 2019. Hasilnya dari 4281 ton perhari itu, yang tertangani dengan baik hanya 48 persen.

Sementara sisanya sebanyak 52 persen tidak tertangani dengan baik. Sementara yang 48 persen itu sudah dikelolah dengan baik, termasuk yang dibuang ke TPA. Sisanya tidak ditangani dengan baik. Dari jumlah tersebut, ada 20 persen merupakan sampah pastik yang sangat sulit diuraikan.

Dari total 20 persen sampah plastik tersebut, ada 11 persen yang dibuang ke selokan, sungai atau akhirnya dibawah ke laut. “Kalau ujungnya di lautan, maka dalam konteks Bali, setiap pantai di Bali adalah tempat wisata. Kalau turisnya lihat kotor, maka mereka pindah semua,” ujarnya.

Ia meminta agar sampah plastik di Bali harus menjadi musuh bersama, perhatian bersama terutama media masa. Gubernur Bali I Wayan Koster melihat sampah di Bali banyak masalah, karena sampah sudah membutuhkan penanganan yang extra ordinary. Salah satunya adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur tentang Pembatasan Timbulan Plastik sekali pakai.

BACA JUGA:  Pelantikan DPW MOI Bali, Satukan Seluruh Lapisan

Plastik sekali pake adalah kantong plastik, sterofoam da sedotan plastik. Dalam pasal 4 Pergub Bali Nomor 97 Tahun 2018 dijelaskan bahwa ada kantong plastik, sterofom, dan sedotan plastik. Jenis plastik ini tidak bisa didaur ulang. Pemulung tidak mau mengambilnya. Tindakan pelaranganya ada di pasal 7, produksi plastik sekali pakai dilarang, distributor plastik sekali pakai dilarang, setiap usaha juga dilarang menggunakan plastik sekali pakai.

Menurutnya, bila media terus menyiarkan hal ini maka pembangunan Bali terutama larangan plastik sekali pakai akan sangat efektif. Selain itu, desa adat akan berperan besar dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai. Bila media dan desa adat bersama-sama menyiarkan dan melarang penggunaan sampah plastik maka sesungguhnya sudah sekitar 70 persen pembangunan Bali di bidang lingkungan hidup sudah bisa tercapai.

Komponen pariwisata juga ikut membantu membangun Bali. “Saya mohon kepada MOI, dengan semua elemennya, mari bersama-sama memberikan edukasi bagi pembangunan Bali dalam bidang sampah,” ujarnya. (*)