Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Mencari kuliner langka di Singaraja. – kabarbali.id
Food

Mencari kuliner langka di Singaraja.

Hello guys apa yang kalain bayangkan saat berada di Singaraja, Pantai? Objek wisata alam? Kota pendidikan? Tanah gersang? Cewek Cantik? #ehhh wakakaka dimana-mana cewek itu ya cantik kalau ada yang bilang cewek itu jelek berarti bukan selera dia berarti hahahaha….

Ok satu lagi yang penulis bayangkan saat ada di Singaraja adalah kulinernya brooooooh sorry ya untuk teman penulis yang tidak mengkonsumsi daging babi, namun siobaklah yang sering diperbincangkan ketika berada di Singaraja.

Lanjut, ada lagi nih yang membuat penulis merasa penasaran dengan kuliner di kota pendidikan ini, kata salah dua ehh salah satu temen penulis yang ngakunya vocalist band namun sebenarnya dia seorang pedagang itu, ehh tapi beneran lho dia punya band indie heee, katanya di Singaraja ada salah satu tempat kuliner yang menyajikan menu khas Bali yang sudah langka bahkan tidak semua orang mengetahui tentang menu yang disajikannya, karena penulis merasa tidak penasaran yaudah langsung kelokasinya yang beralamat di Jl. Pulau Komodo 23 Banyuning Utara – Buleleng, tempatnya itu dipinggir jalan dan cukup dekat dengan eks pelabuhan Buleleng yang indah nan megah.

Ok. Begitu sampai dilokasi penulis mengira dibohongi sama si vocalist rambut kriting itu (wakakaka kasihan amat gak disebut namanya #ah ga penting juga hahaha) ternyata konsep dari warung itu adalah rumahan sesuai dengan namanya yakni PKB bukan Pesta Kesenian Bali om tapi Penggak Kau Bulu.

Rujak Cermen

Ibu muda yang merangkap sebagai pedagang plus kasir plus pramusaji plus apalagi ya? Aahhh pokoknya dia pemeiliknya deh hee… Bliau mengatakan pemilihan nama Penggak Kau bulu itu secara garis besarnya lebih kepada sebuah kesederhanaan saja. “orang jaman dulu kan tidak menggunakan piring, pasti gunakan kau, kau itu adalah batok kelapa tua”. Ungkap ibu cantik yang enggan disebutkan namanya itu, ok sebut saja mawar melati semuanya indah hahaha…..

Intinya kalau penulis memperhatikan, Penggak Kau Bulu itu adalah tempat orang – orang ngumpul bersenda gurau dan santai sambil menikmati makanan.

Baiklah pemirsa, kita mulai bahas makanannya satu per satu.

Mulai dari Serapah Kenus dan Rawon Pulung. Saat ini serapah cukup sulit ditemui di Bali, terakhir kali penulis menikmati kudapan ini sekitar tahun 2007 itu pun bukan pake kenus namun pake daging sapi. Serapah ini berbahan dasar daging yang ditemani dengan tipat dan sayuran lalu dilumburi bumbu kental, kalau di desa Banjar Buleleng bumbu ini diberinama Basedodok dan penyajiannya juga cukup unik, yakni disajikan dengan menggunakan kau.

Serapah Kenus

Serapah ini seperti siobaknya Bali heee… Nah untuk rawon pulung itu bentuknya bulat seperti bakso berbahan dasar ikan yang dicampur parutan kelapa muda #ehh kelapa tua yang bener ya, so far dari segi rasa cukup relatif, namun kalau dari segi penulis rasanya warbyasaahh, maksudnya luar biasa makanan ini mampu membuat penulis djavu ke massa dulu ketika cintanya terus ditolak terus hikzzz……

Itu belum cukup aneh dan asing ditelinga kalian guys, yang suka rujak kalian harus coba menu yang satu ini, namanya Rujak Gedebong… apah? Gak salah itu? Tidak guys ini beneran ada menurut kata si vocalist yang kacamatanya menggunakan bahan daur ulang tersebut, rujak gedebong ini memang langka dan cuma ada dipemaron saja, lalu setelah di cari tau dan diteliti ternyata khasiat gedebong itu cukup bagus untuk kesehatan kita, seperti untuk detoks dan kebugaran tubuh kita cuman dengan satu syarat jangan makan terlalu banyak karena tak bagus. Nah mendengar kata gedebong penulis sendiri membayangkan seperti “jukut ares” ternyata tidak, yang digunakan itu adalah serat dari gedebong pisang kelutuk tapi kalau orang Bali menyebutnya dengan nama Biyu Kerutuk, jika kalian bertanya kenapa pake jenis itu jawabnya cuma satu, karena itu yang paling recommended.

Serapah Kenus dan Rawon Pulung

Rujak Gedebong sendiri dimix dengan berbagai buah tapi lebih pas jika di sandingkan dengan jeruk Bali lalu ditaburin dengan bumbu terasi atau bahasa Balinya adalah sera tabia.

Selain Rujak Gedebong, PKB yang dimix dengan suasana perumahan dan food truck itu juga menyajikan rujak buah cerme, ehh lupa PKB ini satu-satunya di Bali mungkin di Indonesia yang menjajakan dagangannya dengan VW Safari ehh kalau gak salah warna mobilnya itu coklat dan masih berfungsi maksimal lho…. Silahkan triak dan tepuk tangan… Hiphip Horay….

Kembali ke rujak cermen tadi, jika dulu buah ini sampai terbuang karena saking melimpah dan tak tau harus dijual kemana lagi, namun saat ini buahnya semakin langka seperti sawah yang terus tergerus oleh kejamnya perubahan yang mampu merubah pikiran orang untuk menjual sawah mereka, kok penulis jadi ingat sebuah lagu? So tak heran jika penulis menyebut tempat ini dengan istilah “penyaji kuliner langka”.

Selain menu tadi, Penggak Kau Bulu juga menyediakan menu lainnya seperti Es Durian Karamel, Teh Bunga Teleng, Es Cendol serta aneka camilan lainnya.

Ohya hampir lupa, PKB buka saban hari dari jam 11.00 hingga 21.00 wita, saran penulis sih datang lebih awal saja karena takutnya kehabisan saking larisnya, dan jika sudah habis mereka sombong tak memberitahu kota wakakakkaka……

Untuk kamu yang vegetarian juga jangan khawatir, disini ada juga serapah vegen dijamin aman deh, semua menu yang dibuat di Penggak Kau Bulu itu hand made tanpa bahan pengawet dan bahan berbahaya lainnya, penulis berani jamin itu.

Uniknya warung PKB

Ohya pemilik PKB ini juga sangat ramah dengan para pelanggannya lho apalagi bos kecil dua itu haha…

Harga yang ditawarkan disetiap menunya cukup terjangkau dan dijamin tak akan membuat kantong kempes, apalagi anak kost cocok deh kesini siapatau juga yang jomblo dapat jodoh disindang wakakak….

Terakhir, ingat pesan Penggak Kau Bulu ya, “medaar adalah nyawa dan awas celekutan”.

Ahhhh….. Ternyata Singaraja itu cukup unik dan terlalu cepat untuk penulis tinggalkan, sampai jumpa dilain hari. [REV]