Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Menyelami Opera Bersama Heny Janawati – kabarbali.id
Kabar Seni

Menyelami Opera Bersama Heny Janawati

kabarbali.id — Penyanyi profesional mezzo-soprano Indonesia, Heny Janawati, membagikan pengetahuan dan pengalamannya tentang Opera pada program Workshop Seni Pertunjukan yang diselenggarakan di Bentara Budaya Bali (BBB), Minggu (8/7).  

Heny Janawati, B.Mus., M. Mus, kelahiran Bali, telah malang melintang dalam dunia seni pertunjukan. Ia merupakan satu-satunya penyanyi opera asal Bali. Heny pernah memerankan Carmen (G. Bizet, Carmen) hingga Ježibaba (A. Dvoák, Rusalka). Heny pernah berpartisipasi dalam masterclass dengan tokoh opera Amerika Utara, seperti; Judith Forst, Wendy Nielsen, Stuart Hamilton, Perry Price. Selain itu, Heny mendapat pelatihan vocal/opera di European Music Academy, UBC Summer Music, Centre of Opera Studies di Italia.

Di hadapan para peserta workshop, yang mayoritas anak-anak muda, Heny memaparkan mulai dari apa itu Opera, sejarahnya, hingga contoh-contoh pertunjukan Opera. Selain teori tentang dasar-dasar seni pertunjukan opera, teknik olah vokal, stage performance, dan elemen-elemen artistik  yang menyertainya, acara juga diisi sesi praktik olah vokal Opera oleh beberapa peserta. Program ini merupakan kerjasama BBB dengan lembaga pendidikan vokal Staccato Bali.

Sebagaimana disampaikan oleh putri I.G.B. Ngurah Ardjana ini, Opera merupakan salah satu bentuk pertunjukan high-art yang lahir, berkembang, dan populer di Eropa. Opera sendiri berasal dari bahasa latin “Opus”, yang berarti sebuah karya teaterikal yang berisi elemen musik, naskah, menari.

Dalam pementasannya, opera memakai elemen khas teater seperti latar artistik, kostum,  musik, dan akting. Dialog antar tokoh dalam opera dinyanyikan, tidak dituturkan, biasanya dinyanyikan dengan teknik vokal versatile. Peran-peran yang dibawakan penyanyi opera kerap ditentukan oleh “fach” para penyanyinya. Fach pada penyanyi pria dapat dibedakan menjadi “tenor”, ” baritone”, dan “bass”. Untuk penyanyi wanita “soprano”, ” mezzo-soprano”, dan “contralto”.

“Seorang mezzo-soprano sangat jarang memainkan karakter utama. Wanita tidak langsung bisa bermain di panggung. Dahulu, pria sering memainkan tokoh perempuan lengkap dengan kostumnya, “ ujar Heny yang menerima gelar bachelor dan master degree dari The University of British Columbia, Canada.

Heny berharap seni Opera bisa mendapatkan apresiasi yang layak seturut dengan upaya para penggiat Opera yang mengeksplorasi berbagai elemen dalam pertunjukan Opera itu sendiri.

“Sayangnya saat ini di Bali atau di Indonesia belum ada organisasi yang khusus mewadahi musik Opera. Saya berharap penyanyi-penyanyi Indonesia dapat berkolaborasi menghasilkan pertunjukan Opera. Saya juga ingin suatu saat nanti bisa mewadahi opera society di Bali,” ungkap Heny yang juga dosen di program studi musik Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan aktif mengajar voice technique dan performing art di voice studio miliknya “Staccato” di Bali.

Sejak kembali ke Indonesia, pada tahun 2013, Heny mulai tampil dalam vocal recital dan concert di sejumlah tempat. Tak dapat dilupakan perannya sebagai “Carmen” bersama Jakarta Concert Orchestra dan Batavia Madrigal Singers arahan Maestro Avip Priatna tahun 2016 lalu. Atau penampilan kolaborasinya dengan musik daerah dalam “Senandung Opera Sumatera” dan “Ngiring Matembang Bali” di Gallery Indonesia Kaya. (Red/Rls)

Comments

comments

Related Posts