kabar Utama

Navicula Bicara Pulau Plastik No ratings yet.

Band penganut genre psychedelic-grunge asal Bali, Navicula bawa issue lingkungan Indonesia khususnya Bali yang saat ini tengah memprihatinkan saat tur musik mereka di Eropa. Disela-sela konsernya, band yang digawangi oleh Robi (gita/vocal), Dadang (gitar), Palel (Drumm) dan Adi Purba (additional bass) ini melakukan screening tentang kondisi lingkungan khususnya perairan Indonesia yang sangat mengkhawatirkan.

Baca Juga : Made Bayak Garap Buku Plasticology

Robi sebagai fronman dari band tersebut mengatakan masalah sampah plastik bukan lagi masalah pemerintah atau coorporate melainkan itu adalah masalah global yang wajib di selesaikan bersama. Melalui screening tersebut warga menonton pun merasa kaget atas apa yang terjadi dengan perairan Indonesia. “Jangankan mereka, warga Indonesiadan Bali khususnya tidak semua mengetahui hal ini,”ucap Robi saat ditemui dikediamannya dikawasan Ubud.

Melalui sebuah projek yang ia berinama Pulau Plastik, Robi bersama tim melakukan interview secara acak terkait keberadaan samapah dan seputar penanggulangannya dan projek tersebut pun ia kemas dalam bentuk film dokenter. Ia juga sempat melakukan wawancara dengan beberapa peneliti di Indonesia yang melakukan proses pengujian sekitar 300 sample dari biota laut, 100 persen sample yang diuji mengandung micro plastik dan di Bali pun hasilnya lebih mengagetkan. Tidak hanya biota laut, bahkan sampai pasir pun terkontaminasi dengan plasti. “Disatu sisi Indonesia sedang menggalakkan untuk mengonsumsi ikan sebagai salah satu sumber utama penghasil protein dan disisi lain, biota laut kita kondisinya seperti itu,”ujarnya.

Pria berambut gondrong ini juga menyoroti terkait peraturan tentang plastidi Bali baik kantong plasik atau pun jenis plastik lainnya. Semisal peraturan tentang pajak kantong plastik yang sepat beredar dan kini menghilang, baginya hal tersebut seharusnya menjadi sebuah tindakan tegas dan bukan seperti tarik ulur. “Level politik yang membuat peraturan ini harus tegas, duludi Bali pajak kantong kresek hanya Rp 200 kenapa tidak sekalian Rp 5000 atau Rp 10000 dan sepertinya sekarng aturan itu sepertinya sudah tak berlaku lagi,”paparnya.

Baca Juga : Oceana Dukung Transparansi dan Pengurangan Produk Plastik di Bali

Terkait penangannya sendiri, pergerakan reaktif seperti beach clean up atau daur ulang adalah hal yang dianggapnya sudah biasanya, dirinya pun menegaskan penanggulangan plasti harus dari sumbernya dan hal itu wajib didukung oleh masyarakat. “Akan sia-sia yang kita lakukan jika sumbernya msih hidup, masyarakat dan semua aspek wajib mendukung ini,”tegasnya.

Ia juga menuturkan jika masyarakat diharapkan tidak lagi membeli kemasan sachet atau kemasan dengan ukuran kesil sebab selain rugi dari sisi ekominomi, pembelian daam ukuran besar jauh lebih hemat. “Padahal perusahaan besar sekalipun mengakui ukuran besar profitnya jauh lebih menguntungkan ketimbang sachet namun saya pribadi tak mengetahui kenapa masih diproduksi,”katanya lagi.

Dia juga mengajak masyarakat dan perusahaan besar untuk beralih ke bahan yang ramah lingkungan. Mengganti plastik ke bahan kerta atau bahan yang bisa digunakan berulangkali.

Mengakhiri perbincangan kala itu, pria asli Buleleng ini mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pihak terkait untuk bersynergi bersama-sama mengurangi menggunakan plastik. “Saya juga mendukung program pemerintah kota Denpasar terkait peraturan yang melarang penggunaan plastik,”tutupnya.(Red/Jon)

Please rate this

Comments

comments

Related Posts