Teknologi

Permintaan Kaset Menurun, Rah Man Ingin Tetap Rilis Fisik No ratings yet.

Ditengah menurunnya permintaan kaset atau DVD khususnya untuk produksi musik membuat beberapa penjualnya mengalami gulung tikar. Perubahan jaman serta kemajuan teknologi digadang-gadang sebagai faktor utama dari kejadian tersebut.

Produser pun mulai putar otak untuk mencari solusi, dari hitung-hitungan hingga pengelolaan pasar pun telah diupayakan untuk hasil yang maksimal. Namun hingga saat ini solusi terbaik pun masih belum membuahkan hasil.

Baca Juga : Gelar Konser Amal, Galuh Bilen Gandeng Musisi Bali dan Nasional

IGN ‘Rahman’ Murthana sebagai salah seorang produser kenamaan Bali yang juga pemilik Jayagiri Production sangat menyadari atas kejadian tersebut terlebih untuk industri musik Bali. “Kita tidak bisa menolak kemajuan jaman dan saya sendiri masih mencari solusi atas hal tersebut,”katanya saat ditemui beberapa waktu lalu dikawasan Denpasar.

Keberadaan kaset atau bentuk fisik dari sebuah karya saat ini memiliki fungsi berbeda yakni sebatas arsip semata. Menurutnya lagi teknologi semakin maju memudahkan siapapun untuk merekam dan mempromosikan karya. “Perbedaannya sangat terasa bagaimana dulu orang sangat peduli dengan kaset namun sekarang kaset hanya sebatas koleksi saja,”jelasnya.

Kendati demikian, menurut Rahman, bila ingin rilisan fisik tetap bertahan, maka yang diperlukan adalah terobosan dan perlindungan. Sebab versi Rahman, produksi rilisan fisik saat ini sudah dalam kategori ‘kritis’. “Ada celah untuk bangkit lagi sebenarnya, jika kita dilindungi. Saya di Bali khususnya, masih banyak yang ingin mendengarkan itu, tidak melalui teknologi. Tapi yang masih diproduksi secara kaset tape itu seperti kaset kidung, kekawin, karena pangsanya tradisional, ke desa,” katanya.

Rahman berharap, semangat berkarya musisi Bali ini bisa dilindungi oleh pihak-pihak terkait. Tentunya agar karya musisi terproteksi dari segala bentuk pembajakan. “Ambil contoh ketika kita nyeberang laut ke Jawa, dalam kapal feri, coba perhatikan CD dangdut yang diputar. Itu original. Setelah saya telusuri, ternyata asosiasi pekerja musik di sana dengan lembaga terkait seperti kepolisian, kejaksaaan, gubernur, itu sudah ada kesepakatan atau MoU. Jadi tidak ada yang berani menjual barang bajakan. Saya berharap bisa seperti itu juga di Bali,” terangnya.

Rahman sebenarnya dari dulu sudah mengharapkan hal tersebut. Sebagai Ketua Pramusti Bali, ia merasa memiliki tanggung jawab moral akan hal ini. Namun hal tersebut belum kesampaian sampai saat ini karena berbagai kendala. Ia berharap pemerintahan yang baru yang sudah memulai gebrakan terhadap bahasa, aksara dan sastra Bali, juga turut memperhatikan musik Bali. “Gubernur sudah mengeluarkan Pergub tentang bahasa, aksara, dan sastra Bali, serta peraturan berpakaian adat Bali. Ini kan bagus sekali sebagai sebuah perlindungan. Ini juga saya harapkan dilakukan juga terhadap industri musik Bali,” tandasnya. (Re/Rls/Ton)

Please rate this

Comments

comments

Related Posts