Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Kabar Seni

Seniman Norwegia Hadirkan “Pertunjukan Konser Visual” di Bentara Budaya Bali

Seniman Norwegia, Øystein Elle, dengan Capto Musicae-nya, akan menghadirkan sebentuk  pertunjukan konser visual di Bentara Budaya Bali (BBB). Pertunjukan bertajuk  “Territorium” ini berlangsung pada Sabtu (06/7) di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, Ketewel, Sukawati, Gianyar,  melibatkan kreator-kreator dari berbagai latar seni dan negeri.

Garapan ini disutradarai oleh Janne Hoem sekaligus sebagai kreator bersama Øystein Elle. Sebagai produser Nina Ziegemann. Khusus pementasan di Bali, Øystein Elle (vokal, instrumen) dan Maren Elle (Violin), berkolaborasi pula dengan koreografer dan penari Wayan Purwanto, serta sekaa Cak dari Sanggar Singamandawa.

Baca Juga: Gourmet Sate House, Konsisten Rasa Selama 5 Tahun

Øystein Elle memiliki latar belakang dan pendekatan eklektik baik sebagai pemain maupun komposer, serta aktif dalam berbagai seni pertunjukan. Estetika musik maupun seni panggungnya dapat dengan jelas ditautkan dengan sumber inspirasi Baroque, Dadaisme, Eropa, dan Avant-Garde Amerika Utara. Sebagai seorang pemain dan pencipta pertunjukan teater, ia fokus pada bentuk-bentuk modern dari dramaturgi, dan khususnya pertunjukan yang digerakkan oleh musik, atau “Composed Theatre”.

Sementara Maren Elle adalah seorang pemain biola di Norwegian Radio Orchestra. Selain karya orkestra, ia juga memainkan musik kamar dalam berbagai konteks, termasuk sebagai pemain biola baroque dalam ansambel Barokkanerne. Dia memiliki kepedulian tentang penyebaran musik, dan bagaimana membuka ruang apresiasi lebih luas untuk musik, baik di kalangan penonton anak-anak atau orang dewasa.

“Territorium adalah potret yang sangat mempribadi dari Øystein Elle, dihidupkan melalui kolaborasi dan persahabatan antara kami berdua. Ini juga sebentuk penghormatan terhadap segala unsur yang hidup dari manusia. Ini adalah Territorium atau wilayahnya, tetapi juga ruang terbuka, di mana Anda diundang untuk masuk  ke sebuah ruang cipta baru.  Kami dengan rendah hati membawa apa yang kami sebut pertunjukan ke Bentara Budaya Bali untuk menghubungkan akar kultur kami dengan sesuatu yang segar,” ujar Janne Hoem.

Baca Juga: Djaja Tjandra Kirana Rayakan Ulang Tahun Dengan Pameran Tunggal

Janne Hoem merupakan seorang seniman visual dan sutradara  yang kerap mengerjakan pertunjukan teater dan film. Dia melakukan eksplorasi melampaui gender, melakukan pencarian di balik kebangsaan, latar dan mitologi untuk menemukan konsep kemanusiaan yang universal. Ia secara khusus mendalami teknik Butoh dan Grotowski guna mencipta dari dalam diri bersama pemain lainnya. Ia berupaya untuk mengekspresikan budaya dari seluruh tubuh sehingga bisa menemu apa yang hakiki dari diri.

Adapun kolaborasi lintas bangsa ini merupakan buah kerja sama dengan KULTURRÅDET – Arts Council Norway dan Kementerian Luar Negeri Norwegia dengan BBB.

Upaya Pencarian Panjang

Capto Musicae, berasal dari bahasa Latin yang berarti menangkap atau menangkap musik, merupakan sebuah proyek jangka panjang yang digagas oleh Øystein Elle. Proyek tersebut menjadi sebentuk laboratorium bagi Øystein Elle, di mana ia mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru untuk teater musik di persimpangan antara konser, seni pertunjukan, seni visual, dan teater, menggunakan alat komposisi praktik vokal yang diperluas sebagai kerangka kerja utama.

Melalui Capto Musicae Elle ingin menciptakan pertunjukan dan latihan teater musik yang dapat menggambarkan sejarah suara manusia dan warisan musik yang kaya dari berbagai tradisi.

Pada garapan Territorium, Elle bereksperimen dengan unsur-unsur seperti film, bahan skenografi, teknik suara yang diperluas dan dekonstruksi bahan teks. Proses cipta pertunjukan ini juga terbilang panjang, tidak hanya diolah di Norwegia, namun juga sebagian adegan dikreasi dan disublimasi di Tokyo. Ide atau gagasan yang dipresentasikan terinspirasi mitologi yang hidup dalam khazanah kebudayaan Nordik, Avant Garde Jepang, dan Dadaisme Eropa.

BACA JUGA:  STAHN Optimalkan Dosen Muda Untuk Hadapi Tantangan Pendidikan

Baca Juga: Spirit dan Pemaham Tumpek Wariga

Melalui tahapan konstruksi dan dekonstruksi yang berulang perihal peran, identitas, ruang pribadi dan sosial; yang secara keseluruhannya terangkum di dalam penegasan akan hubungan antar kita, berikut konvensi yang mempertautkan hubungan-hubungan tersebut. Ini merupakan sebentuk pertunjukan kolase, mempresentasikan sebuah ruangan di mana “sense” dan “non-sense” diselaraskan atau disatu-padukan. Segenap unsur yang berbeda latar, masing-masing memiliki peran yang esensial dalam keseluruhan bangunan musikal yang bersifat polifonik.

Territorium telah dipentaskan keliling di sejumlah negara, antara lain  di Tou Scene, Stavanger, Norwegia (17 dan 18 Maret 2016),  di Tokyo,  Jepang  (24 dan 25 Juni 2016), termasuk di Norwegian Theatre Academy, Fredrikstad, Norwegia. Ditampilkan pula pada “Færder Kulturfestival”  di Vestfold, Norwegia dan di The Konservatory, San Fransisco, USA, sepanjang tahun 2017 hingga 2018. (Red/Rls)