Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Spirit dan Pemaham Tumpek Wariga – kabarbali.id
Gumi Bali

Spirit dan Pemaham Tumpek Wariga

Oleh : I K. Satria

Alarm persembahan kembali berbunyi di hari Tumpek Wariga, Saniscara Kliwon wuku wariga. Disini kita dibangunkan kembali dalam kesadaran akan pentingnya peranan tumbuhan dalam kehidupan kita, tumbuhan yang senantiasa memberikan kita kehidupan, mulai dari tumbuhan memberikan buahnya, daunnya, bunganya untuk keberlangsungan kehidupan kita.

Tumbuhan juga memberikan berbagai akar, batang, bahkan pucuknya untuk pengobatan. Melihat hal ini, mutlak kita mesti terbangun kesadaran kita untuk memuliakan tumbuhan dihari tumpek wariga yang telah menghidupi kita.

Baca Juga: Tirta Geroh, Tempat Nunas Taksu Hingga Hal Mistis Lainnya

Selama ini, yadnya atau persembahan yang dilakukan setiap hari suci masih dilihat sebagai rutinitas. Rutinitas yang seolah kurang memiliki pemahan selain ada pengorbanan dalam mempersembahkan. Masih syukur kita melakukan pengorbanan yang suci, dibandingkan dengan mengorbankan kesucian yang kita miliki. Ada makna yadnya yang perlu kita rubah. Hal ini sebagai pondasi dasar kita dalam melakukan aplikasi agama yang sesungguhnya amat membumi.

Yadnya yang membumi adalah yang menyentuh semua ranah kedamain, damai pada manusia hewan, tumbuhan, panca maha bhuta dan sebagainya. Ketika ranah damai itu disentuh, maka sesungguhnya itulah kebenaran dari pelaksanaan yadnya. Untuk memahami hal tersebut maka kata korban suci dalam pengertian yadnya mesti dinaikan satu tahap lagi agar lebih universal menjadi persembahan suci.

Dengan kata persembahanlah kita memahami Tuhan ada dalam setiap perilaku kita. Kita ada, kita hidup, alam damai dan tenteram mutlak karena unsur tuhan ada didalamnya. Inilah penyadaran dan aplikasi dari Pancasila sila pertama, bahwa tuhanlah sebagai kreasi semua yang ada di alam ini, ketuhanan yang maha esa, bahwa beliaulah segalanya dan terutama dalam kehidupan kita.

Baca Juga: Sanggar Buratwangi, Wujudkan Kesetaraan Gender Saat Tumpek Wayang

Kembali pada kata persembahan, sesungguhnya tumbuh-tumbuhan merupakan pondasi awal dalam setiap pelaksanaan yadnya. Semua upakara untuk melakukan upacara sangat tergantung dari keberadaan tumbuhan. Bahkan besar kecilnya yadnya bisa dipengaruhi oleh tumbuhan yang ada dalam persembahan itu.

Jadi tumbuhan sebenarnya vital, sumber penghidup dan mesti disadari hal itu untuk kemudian dilakukan pemuliaan yang sesungguhnya. Dalam hal ini kita perlu merujuk Rg Veda : V.11.6 yang berbunyi “Tusam Agne Agniraso Guhahitam Anvavidan Sinriyanam Vane Vane”, yang artinya Tuhan meliputi setiap tumbuhan, para bijak menyadari tuhan didalam hatinya. Pada sabda Veda diatas, kita bisa pahami bahwa tumbuhan diliputi oleh Tuhan, maka kita tak bisa mengelak bahwa adalah benar tumbuhan menjadi penghidup, menjadi penyembuh, menjadi hal yang vital, karena tumbuhan itu diliputi oleh unsur tuhan.

Adakah hidup kita diluar jangkauan tuhan? Tentu jawabannya tidak. Tumpek wariga sesungguhnya upaya nyata kesadaran yang diingatkan kepada umat agar selalu menjaga sang penjaga hidup yaitu tumbuhan. Persembahan yang dilakukan bukan hanya melakukan ritual, karena itu baru hanya pengorbanan berupa sarana upakara, namun lebih dari itu kita memerlukan langkah nyata yaitu perilaku yang bajik dalam memulia tumbuhan. Memelihara, mengembangkan, menanam, mereboisasi, menjaga keutuhan adalah langkah nyata, terlebih kita sekarang latah menyampaikan tentang sad kertih, namun masih kering dalam prilaku.

Baca Juga: Hari Harsananda : Antara Landep, Keris dan Mobil

Kita mesti melihat berapa sungai mengering, berapa hutan tak terjaga kelestariannya, berapa banyak air mineral kemasan kita gunakan, dan ini mengesampingkan unsur air yang ada dalam lingkungan kita. Penyembah bumi dulu menyerahkan sepenuhnya kepada alam, air dari alam, makanan dari alam dan itulah cikal bakal kesehatan mereka, tahulah bagaimana kesehatan mereka yang kembali ke alam.

BACA JUGA:  Rayakan HUT ke-7, Ini Harapan HS Siligita

Dalam hal ini bukan berarti kita sekarang meminum air lingkungan kita yang sudah tercemar, tetapi kita diingatkan agar memelihara itu untuk kemudian bisa kita gunakan, melalui momen tumpek wariga ini. Program pengurangan sampah plastik sangat efektif untuk langkah nyata kita kembali ke alam, namun kita harus lakukan dengan kesungguhan sebagai bentuk konsistensi kita melakukan perubahan.

Geokultur kita kini berorientasi pada keindahan alam untuk dinikmati sepenuhnya, tanpa ada memelihara keindahan itu sepenuhnya. Ini akan berdampak pada kemunduran logika kita kemudian, karena kita akan dibuat selalu mengekonomiskan segala isi alam termasuk keindahan. Ujung-ujungnya dari perilaku ini adalah keringnya nurani kita tentang menjaga kepekaan terhadap alam.

Disadari atau tidak kita sedang berada ditahap ini, kita sedang melukai alam sesungguhnya! Bagaimana merubah pola pikir kita? Maka alarm setiap 6 bulan sekali kita diingatkan agar kembali. Kembali dekat, kembali merenungi bahwa tak banyak yang kita bisa lakukan kalau yadnya kita hanya masih dalam pengorbanan. Kita mesti menaikan satu tahap lagi yaitu menuju persembahan.

Baca Juga: Festival Tepi Sawah, Zero Plastic Hormati Ibu Pertiwi

Ini akan memperbaiki pola laku kita sehingga menganggap bahwa semua ini diliputi Tuhan dan adalah kewajiban kita memelihara untuk keberlangsungan. Tumpek wariga mengingatkan kita untuk menanam, memelihara, mengembangkan tumbuhan untuk kedamain kita. Karena udara bersih, pemandangan indah mutlak disajikan hanya oleh tumbuhan. Mari kita muliakan dengan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari, karena itu adalah bentuk persembahan kita kepada Tuhan dan kepada alam semesta yang kita singgahi ini.

Mari kita korbankan segala upakara untuk kita persembahkan kepada Sang Hyang Sangkara, sesayut cakra geni, bubuh, abug glebug dan mantra-mantra,  kemudian lanjutkan langkah nyata doa kita dengan menanam, memelihara dan mengembangkan. Itulah arti alarm kesadaran yadnya sebagai persembahan suci di wuku wariga.  Rahajeng Tumpek Wariga. (Red/Dhi)