Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Suhu di Bali Menjadi Dingin, Ini Penyebabnya – kabarbali.id
Peristiwa

Suhu di Bali Menjadi Dingin, Ini Penyebabnya

Beberapa hari belakangan wilayah Bali khususnya Denpasar terasa lebih dingin dari biasanya. Hal ini biasa terjadi dan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar bahwa di atmosfer saat ini mulai terbentuk awan-awan yang menghambat pelepasan panas.

“Kondisi ini menjadi pertanda suhu dingin akan berlangsung sampai masa transisi ke musim penghujan,”ujar Kabid Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar Imam Faturahman, Senin (3/6).

Baca Juga: Perda Desa Adat Berlaku Mulai 4 Juni, Begini Isinya

Ia menjelaskan fenomena suhu yang saat ini terasa lebih dingin memang terkait dengan pelepasan panas. Jika siang hari bumi menerima panas dari matahari maka pada saat malam hari sebagian dari panas ini akan dilepaskan kembali ke atmosfer.

Awal musim kemarau seperti saat ini, tutupan awan dinilai mulai berkurang yang artinya panas yang diterima oleh bumi saat siang hari lebih mudah dilepas kembali ke atmosfer pada malam harinya. “Suhu terendah biasanya terjadi pada puncak musim kemarau sekitar bulan Juli hingga Agustus,” terangnya.

Mengutip dari laman Radar Bali, Fenomena angin yang terasa cukup kencang, hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dan fenomena ini merupakan fenomena yang normal. Biasanya, perubahan suhu yang makin dingin ini terjadi pada saat peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau.

Baca Juga: PLN Bali Siagakan Posko Mudik

Datangnya musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (monsoon Asia) menjadi angin Timuran (monsoon Australia).

Peralihan peredaran angin Monsun itu akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada Maret 2019, lalu wilayah Bali dan Jawa pada April 2019.

Kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2019 dan akhirnya monsoon Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2019.

“Saat ini sedang terjadi peningkatan aktivitas angin timuran (monsoon Australia) yang ditandai dengan bertiupnya angin Timur – Tenggara

dengan kecepatan mencapai 25 knot (45km/jam) di wilayah selatan Ekuator termasuk wilayah Perairan di Bali dan sekitarnya,” tandasnya.  (Red/Dhi/Net)

Comments

comments