Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Gumi Bali

Tirta Geroh, Tempat Nunas Taksu Hingga Hal Mistis Lainnya

Tirta Geroh yang terletak persis di Perbatasan antara kabupaten Bangli dan Gianyar ini dipercaya sebagai tempat memohon taksu bagi seniman topeng.

Tempat ini berada persis di bantaran Sungai Campuhan. Biasanya sembari mengolah nafas dan vocal, berkumur dengan air pancoran yang datang langsung dari sumber mata air atau kelebuatan yang menyegarkan. Konon, air yang bersumber dari goa tersebut dapat menghaluskan pita suara, sehingga untuk mengeluarkan karakter suara bulat sangatlah gampang.

Jero Mangku Wayan Suarta, selaku tokoh adat Banjar Selat Tengah, Selat mengatakan jika keberadaan pancuran itu sudah ada berabad silam meski dia tak menampik bukti atau catatan tentang tempat itu tidak ada. “Sebelum dikenal masyarakat luas, tempat ini hanya memiliki satu pancuran lalu oleh warga kita menambahkan satu pipa karena banyaknya pamedek tangkil,”ucapnya seperti yang dilansir dari laman Baliexpress.

Baca Juga: Melasti dan Tujuannya Menurut Lontar Sundarigama

Dijelaskannya, nama Tirta Geroh berasal dari kata Tirta yang berarti air, dan Geroh berarti suara keras. Konon suara keras seperti gong kerap terdengar jelang rerahinan atau hari suci keagaaman Hindu. Meski masih samar-samar, tapi suara gong itu dapat didengar manakala masyarakat berhenti beraktivitas. “Suaranya muncul dan terdengar setiap jam 12 malam. Kadang jam satu dini hari. Kan sudah tidak ada aktivitas, makanya terdengar,” jelas Jero Mangku Suarta.

Tidak hanya itu, percikan air dari goa akan menghasilkan suara semacam angin besar. Itu juga kerap didengar warga manakala hari menjelang malam dan hal itu pun sudah menjadi cerita umum disekitar warga setempat.

Adalah Komang Wipraja, (40), yang kini aktif sebagai seniman di desanya. Sebelum ngayah di pura, dia rutin melatih olah vokalnya di Tirta Geroh. Dia percaya, setelah berkumur, suaranya makin besar. “Ada semacam power (kekuatan). Tapi tidak berkumur saja. Saya kadang biarkan air mengucur ke mulut saya, sambil saya bersuara. Boleh percaya, boleh tidak,” kata Wipraja meyakinkan.

Baca Juga: Tradisi Ngaga di Desa Pedawa, Datangkan Bibit Dari Flores

Kata Wipraja, yang juga Kelihan Banjar Selat Tengah, kerap datang ke Pancuran Tirta Geroh hanya untuk bernyanyi maupun meditasi. Kejadian aneh pernah dia alami ketika berkumur. Ketika membuka mulut, air pancuran tiba-tiba mengucur sangat keras.

Dia yang berkumur sembari bernyanyi pernah hampir tersedak lantaran banyak air yang masuk ke tenggorokannya. “Saya takut waktu itu. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012-2013 pada saat purnama,” tuturnya dengan nada heran.

Sumber mata air Tirta Geroh berasal dari mulut goa, persis di belakang pancuran. Goa ini panjangnya sekitar 10 meter. Namun untuk masuk ke dalam goa sangat sulit lantaran aksesnya sempit. “Bisa sampai di bibir goa saja,” ujarnya.

Ditambahkan Jero Mangku  Suarta, Tirta Geroh kerap dijadikan tempat meditasi oleh para penekun spiritual. Mereka tidak hanya dari wilayah Bangli dan Gianyar. Penekun spiritual yang mengaku berasal dari Belgia dan negara Eropa lain, suka datang ke tempat itu. Bahkan, balian asal Desa Petak, Gianyar, pernah datang ke Tirta Geroh mengajak salah seorang warga yang sakit.

Baca Juga: Prof. Dibia, Ngunda Bayu adalah Rahasia Penari Bali

“Katanya dia sakit kena guna-guna. Mereka datang ke sini nunas tirta. Merek minum airnya dan berkumur. Tiba-tiba muntah, airnya berisi bercak merah cokelat seperti darah. Beberapa minggu berikutnya  datang lagi, mereka ternyata sembuh,” ungkap Jero Mangku  Suarta  tanpa membeber identitas balian tersebut.

BACA JUGA:   Bali Special Project Suguhkan Tampilkan Adi Merdangga

Tidak hanya itu, jika air pancuran berwarna keruh seperti air beras, warga dianjurkan meminum air tersebut. Warga sekitar percaya bahwa air keruh itu adalah penawar sakit yang ada dalam tubuh. Selain itu, juga diyakini sebagai air pembawa keberuntungan. Tapi yang aneh, kemunculan air keruh itu tidak bisa diprediksi.

Masyarakat setempat juga datang ke Tirta Geroh untuk meminta restu maupun memohon agar dikaruniai momongan. Mereka yang datang rata-rata tidak bisa hamil sampai lima tahun. “Kerabat titiang ada yang coba. Beberapa bulannya hamil. Sekarang sudah melahirkan, anaknya perempuan,” ujarnya. (Red/Dhi/Net)