Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Tradisi Ngaga di Desa Pedawa, Datangkan Bibit Dari Flores – kabarbali.id
Gumi Bali

Tradisi Ngaga di Desa Pedawa, Datangkan Bibit Dari Flores

“Pang ten bongol bibite, nike mangda mesuryak wuuuu…wuuuu…wuuuu… (biar tidak tuli benihnya, makanya berteriak wuuu…wuuu…wuuu),” ucap salah seorang krama, Made Genong, 50 Tahun, saat menjalankan ritual penanaman benih.

Tradisi kuno asli Desa Baliaga, Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng kembali dibangkitkan oleh warga setempat.

Tradisi Ngaga (menanam Padi Gogo) di areal tegalan oleh Pengempon Pura Puncak Sari, Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng kembali digelar Rabu (19/12) pagi. Tradisi ini sebelumnya sempat hilang, setelah terakhir digelar pada tahun 1971 silam. Kembali digelarnya tradisi ini bertujuan menjaga pasokan gabah Padi Gaga yang digunakan saat pujawali di Pura Pucak Sari.

Sejak pukul 07.00, puluhan krama pengempon Pura Puncak Sari telah berkumpul di sebuah lading, lengkap dengan pakaian adat madya. Setiap krama terlihat membawa bambu yang ujungnya runcing dengan kondisi batang yang masih hijau. Bambu itulah yang nantinya digunakan untuk menajuk bibit Padi Gogo yang akan ditanam di lahan seluas 8 are.

Baca Juga : 

Sebelum dimulai, para krama ini memastikan lebih dulu, supaya benih Padi Gaga dicampur dengan beberapa jenis biji-bijian. Seperti jagung, kacang kedelai hitam (undis) dan jagung kedu, serta obat pemali (campuran dari kunyit, daun endong dan dapdap). Tambahan obat pemali ini, sebagai antisipasi tanaman tersebut diserang hama saat bertumbuh.

Begitu segala benih itu tercampur, maka prosesi dilanjutkan dengan matur piuning di lahan tersebut. Setelah itu barulah puluhan krama secara bersama-sama langsung melakukan tradisi Ngaga. Dalam menjalankan prosesi tersebut, mereka pun telah membagi tugas masing-masing. Dimana ada yang mendapat tugas menajuk tanah, ada pula krama yang bertugas menaburi lubang hasil tajukan tersebut dengan benih padi dan kacang-kacangan.

Uniknya, selama prosesi menanam Padi Gogo di tegalan itu, semua krama secara bersama-sama berteriak wuuuu…wuuuu…wuuu. Konon dari penuturan beberapa krama, teriakan itu bertujuan supaya benih-benih yang ditanam tidak bongol (tuli), mau tumbuh dan berkembang, serta tidak diserang hama.

“Pang ten bongol bibite, nike mangda mesuryak wuuuu…wuuuu…wuuuu… (biar tidak tuli benihnya, makanya berteriak wuuu…wuuu…wuuu),” ucap salah seorang krama, Made Genong, 50.

Menurut penuturan Penglingsir Pengempon Pura Puncak Sari, Wayan Dasar, 60, tradisi Ngaga telah dilakukan para leluhurnya secara turun-temurun. Tradisi menanam Padi Gogo ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pujawali di Pura Puncak Sari yang jatuh setiap Sasih Kaulu (bulan Januari-Februari).

Saat pujawali itu, salah satu sarana utama yang wajib dihaturkan yakni nasi yang berasal dari Padi Gogo. Nasi tersebut ditambahkan sejumlah lauk dan sayur-sayuran, untuk dipersembahkan kepada Ida Bhatara Sri Rambut Sedana yang bersthana di Pura Puncak Sari. Selanjutnya, nasi persembahan itu akan dimakan bersama para penyungsung pura, sebagai simbol nunas bayuh agar diberi kesejahteraan dan kemakmuran.

“Karena penting digunakan sebagai sarana saat pujawali, makanya Padi Gaga ini harus kami tanam untuk memenuhi kebutuhan saat pujawali. Bukan hanya untuk dewa yadnya, tetapi upacara manusa yadnya dan pitra yadnya, juga wajib menggunakan sarana bija ratus atau Padi Gaga ini,” ujarnya Rabu (19/12) pagi.

Baca Juga :

Dia menceritakan, tradisi Ngaga selama ini memang sempat vakum, alias tidak dilaksanakan. Dimana terakhir kali digelar yakni pada tahun 1971. Akibatnya pemenuhan akan Padi Gaga untuk Pujawali di Puncak Sari terpaksa harus didatangkan dari luar Pedawa dengan cara membeli.

Walaupun saat itu masih bisa dicari dengan cara dibeli. Namun diakuinya, proses untuk mendapatkan padi tersebut bukan perkara mudah. Sebab Padi Gaga sangat jarang dibudiayakan oleh petani di Bali. Lantaran para petani saat ini lebih memilih membudiayakan padi hybrida, yang masa tanamnya lebih singkat, dan bisa dipanen tiga bulan sekali. Berbeda dengan Padi Gaga yang baru bisa dipanen enam bulan sekali.

Untuk itulah, untuk prosesi Ngaga ini, pihaknya harus mendatangkan benih Padi Gaga khusus dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Benih Padi Gaga ini dinilai cocok ditanam di daerah tegalan, yang sulit mendapatkan air. Sebab, padi jenis ini memang bisa tumbuh dan berkembang di daerah tegalan.

Disinggung mengenai alasan kenapa ada jeda dalam tradisi ini. “Saat itu krama lebih memilih menanam kopi, cokelat dan cengkih untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Karena kalau hanya menanam Padi Gaga di tegalan, panennya hanya enam bulan sekali. Secara hitung-hitungan ekonomi pasti kalah dengan komoditas kopi, cokelat dan cengkih yang memiliki nilai jual tinggi,” jawabnya.

Lebih lanjut Dasar menerangkan, dalam prosesi Ngaga ini, seluruh krama pengempon Pura Puncak Sari wajib hadir untuk ngayah dalam menanam Padi Gaga. Mereka yang ikut itu pun tak hanya mereka yang sudah tua, tapi juga para pemuda, baik laki maupun perempuan. Inilah yang membuat, dengan kerja kompak, prosesi Ngaga ini tak butuh waktu lama. Lantaran untuk menanam Padi Gaga di lahan seluas 8 are, para krama hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Dengan kembali digelarnya tradisi ini kemarin, Dasar berharap tradisi ini dapat terus berlanjut hingga masa mendatang. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan Padi Gaga ini, tidak lagi harus mencari sampai keluar Pedawa. Untuk itu, sesuai rencana, pengempon pura yang disebut Sekeha Juragan (petani) akan rutin menggelar tradisi Ngaga ini. (Red/Baliexpress)

 

Comments

comments