BADUNG, KABARBALI.ID – Fenomena kekerasan terhadap anak di Bali, termasuk kasus memilukan seperti bunuh diri di usia dini, menjadi alarm keras bagi ketahanan keluarga. Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, menegaskan bahwa peran orang tua adalah kunci utama yang tak tergantikan dalam menciptakan lingkungan layak anak.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Kabupaten Layak Anak (KLA) di Kabupaten Badung, Jumat (27/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari advokasi Dinas Sosial dan P3A Provinsi Bali untuk memperkuat sinergi lintas sektor.
Kasih Sayang di Atas Materi
Dalam paparannya, Ny. Seniasih menyoroti kecenderungan orang tua modern yang merasa sudah cukup memberikan segalanya kepada anak hanya melalui pemenuhan materi. Padahal, kekosongan emosional akibat orang tua yang terlalu sibuk bekerja sering kali menjadi pintu masuk berbagai persoalan sosial.
“Perhatian yang dibutuhkan anak bukan hanya berupa pemberian segala sesuatu yang berbentuk materi, sementara ibu dan bapak hanya sibuk bekerja,” tegas Ny. Seniasih.
Menurutnya, kurangnya sentuhan kasih sayang dapat memicu risiko anak menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun verbal. Ia mengingatkan bahwa perkataan kasar juga merupakan bentuk kekerasan yang meninggalkan luka batin mendalam bagi anak.
Soroti Pernikahan Dini dan Kasus Bunuh Diri
Ny. Seniasih secara blak-blakan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap angka kekerasan anak di Bali, khususnya di Badung. Salah satu indikator yang paling mencolok adalah munculnya kasus bunuh diri yang melibatkan anak-anak, serta masih adanya praktik pernikahan di bawah umur.
“Karena alat reproduksi mereka belum siap, pernikahan dini juga masuk kategori kekerasan terhadap anak. Kondisi fisik dan mental mereka belum siap, ini harus dicegah secara serius,” cetusnya.
Sebagai langkah preventif, ia mengajak para orang tua untuk lebih terbuka dalam memberikan edukasi batasan tubuh sejak dini. Anak-anak harus paham bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain sebagai perlindungan diri dari predator seksual.
Pemerintah Provinsi Bali bersama Forum PUSPA berjanji akan terus mengintensifkan sosialisasi hingga ke tingkat akar rumput guna memastikan tidak ada lagi anak di Bali yang merasa sendirian dalam menghadapi tekanan hidup. (Rls-Kab).