GIANYAR, KABARBALI.ID – Kabupaten Gianyar kembali bersiap menggelar hajatan seni akbar melalui Pekan Budaya 2026. Sebagai daerah yang menyandang predikat Kota Seni, agenda ini dirancang untuk menguatkan identitas budaya sekaligus memberikan ruang ekspresi bagi seniman lintas generasi di tingkat desa adat.
Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Perbawa, menegaskan bahwa kesuksesan pekan budaya ini bertumpu pada keberanian inovasi dan soliditas tim. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah pengukuhan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) di tingkat kecamatan untuk memastikan aspirasi seniman akar rumput terakomodasi.
Magnet Utama: Parade Ogoh-Ogoh Juara
Daya tarik utama yang paling dinanti masyarakat adalah pameran ogoh-ogoh hasil seleksi terbaik dari tujuh kecamatan. Sebanyak 21 ogoh-ogoh peraih juara I, II, dan III akan diboyong menuju pusat Kota Gianyar.
Namun, untuk menjaga kelancaran lalu lintas, panitia menetapkan aturan khusus: hanya ogoh-ogoh peraih Juara I yang akan diarak di jalan utama. Sementara itu, ogoh-ogoh Juara II dan III akan dipajang sebagai instalasi seni di titik-titik strategis, mulai dari depan Pasar Gianyar hingga kawasan pertokoan.
“Mobilisasi ogoh-ogoh dari tiap kecamatan ke kota dijadwalkan mulai 11 April malam, dan seluruh karya terbaik tersebut sudah tertata rapi di lokasi utama pada 13 April,” jelas Adi Perbawa.
Dominasi Gaya Tampaksiring
Ada yang unik dari tren estetika ogoh-ogoh Gianyar tahun ini. Para pengamat seni menyebutkan bahwa karya-karya yang muncul didominasi oleh pengaruh gaya Tampaksiring. Karakter ini menonjolkan detail anatomi tubuh yang proporsional, ukuran yang besar, serta sentuhan artistik yang sangat mendalam.
Rangkaian Kegiatan Seni
Selain parade ogoh-ogoh, Pekan Budaya Gianyar juga akan dimeriahkan oleh berbagai perlombaan dan pameran, antara lain:
• Lomba Balaganjur dan Bapang Barong.
• Lomba Tapel dan Sketsa Ogoh-ogoh.
• Aksi Melukis Spontan Massal.
• Pameran Lukisan Seniman Lokal.
Untuk menyokong pendanaan, panitia juga menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), membuktikan adanya sinergi antara pemerintah, seniman, dan pengusaha dalam melestarikan budaya Bali. (Tut-Kab).detailnya di kabarbali.id.