Ambisi ‘Green Island’ Nusa Penida & 5 Zona Penyangga Ekonomi Hijau

Gubernur Wayan Koster saat mencoba menaiki sepeda motor listrik disela pertemuan dengan pihak PLN.

DENPASAR, KABARBALI.ID – Bukan sekadar wacana, Gubernur Bali Wayan Koster telah memetakan strategi ‘keroyokan’ untuk mengubah wajah transportasi di Bali. Lima kawasan wisata kelas dunia dipastikan akan menjadi “laboratorium” pertama transisi energi bersih di Pulau Dewata.

Kawasan Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan Nusa Penida terpilih sebagai zona perintis. Pemilihan lima lokasi ini bukan tanpa alasan. Sebagai jantung pariwisata Bali, zona-zona ini akan menjadi etalase bagi wisatawan dunia bahwa Bali serius bergerak menuju ekosistem tanpa emisi.

Nusa Penida: Calon ‘Pulau Hijau’ Pertama di Indonesia

Dari kelima wilayah tersebut, Nusa Penida mendapat sorotan khusus. Ambisinya tidak main-main: Menjadikan pulau ini sebagai “Green Island” seutuhnya.

“Nusa Penida itu akan kita buat sebagai green island. Infrastruktur dan kendaraannya kita arahkan ke listrik. Bupati Klungkung sudah menyatakan kesiapannya dan sangat mendukung rencana ini,” tegas Koster dengan nada optimis saat rapat koordinasi percepatan ekosistem EV bersama Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero), Adi Priyanto, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Sabtu (24/1/2026).

Langkah ini dinilai strategis mengingat Nusa Penida merupakan destinasi yang sedang naik daun secara global. Dengan menjadikannya Green Island, Bali tidak hanya menjual keindahan alam, tapi juga komitmen terhadap kelestarian lingkungan yang berkelanjutan (sustainable tourism).

Menghapus Polusi di Jantung Wisata

Zonasi ini diharapkan mampu memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil di kawasan padat pelancong. Dengan dukungan penuh dari PLN, infrastruktur SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) akan difokuskan secara masif di titik-titik tersebut.

“Ini adalah kebijakan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Kita ingin masyarakat sejahtera sekaligus alam terjaga. Di zona-zona ini, kita dorong mulai dari kendaraan operasional pemerintah, angkutan umum, hingga kendaraan pribadi untuk beralih ke baterai,” tambah Koster.

Dengan penguatan zonasi ini, Bali mengirimkan pesan kuat ke panggung internasional: Bahwa ekonomi hijau bukan lagi masa depan, melainkan sudah dimulai hari ini dari titik-titik strategis pariwisata Bali.

Direktur Retail dan Niaga PT. PLN (Persero) Adi Priyanto mengungkapkan bahwa kendaraan listrik menawarkan berbagai manfaat signifikan bagi pengguna, utamanya penghematan biaya operasional harian karena biaya pengisian daya (listrik) lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil dan perawatan mesin yang lebih sederhana.

“Pengguna juga menikmati pengalaman berkendara yang senyap, akselerasi instan, bebas emisi,” pungkasnya. (Kri-Kab).

kabar Lainnya