Amor Ing Acintya Seniman Drama Gong Legendaris “Patih Agung”Prof. I Wayan Sugita asal Samplangan Gianyar, Tutup Usia

GIANYAR, KABARBALI.ID – Dunia seni pertunjukan Bali dan pendidikan Hindu berduka. Seniman drama gong legendaris asal Samplangan, Gianyar, sekaligus Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si, berpulang pada Rabu (7/1/2026) malam.

 

Prof. Wayan Sugita mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 19.30 Wita di RSU Wangaya Denpasar, setelah berjuang melawan komplikasi penyakit yang dideritanya. Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi seniman, akademisi, serta pegiat budaya Bali.

 

Sempat Alami Stroke Berulang

Putra almarhum, Tilem Pastika, mengungkapkan bahwa sang ayah memiliki riwayat penyakit jantung sejak 1998 dan sempat mengalami stroke pada 2017.

 

Kondisinya kembali menurun setelah mengalami stroke berulang pada 22 Desember 2025.

 

“Sempat dirawat karena infeksi paru-paru dan kondisinya membaik hingga dipulangkan tanggal 2 Januari. Namun di rumah kondisinya tiba-tiba drop,” ujar Tilem Pastika.

 

Ia menjelaskan, almarhum kembali dilarikan ke IGD RSU Wangaya akibat penumpukan lendir di tenggorokan yang masuk ke paru-paru.

 

“Terjadi henti napas dan henti jantung. Ayah dinyatakan meninggal dunia di IGD RSU Wangaya,” katanya.

 

Hingga Kamis (8/1/2026), jenazah almarhum masih berada di ruang pemulasaraan RSU Wangaya.

 

Rangkaian upacara adat dan prosesi selanjutnya masih menunggu keputusan keluarga bersama desa adat setempat.

 

Ikon Patih Agung Drama Gong Bali

Prof. I Wayan Sugita lahir di Banjar Bukit Batu, Samplangan, Gianyar, pada 8 Mei 1965. Meski tidak menempuh pendidikan seni secara formal, kecintaan dan ketekunannya mengantarkannya menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam dunia drama gong Bali.

 

Namanya mulai dikenal luas sejak 1984, ketika meraih penghargaan Pemeran Pria Utama Terbaik pada Festival Drama Gong Remaja se-Bali.

 

Pada tahun yang sama, ia tampil bersama Sekaa Drama Gong Saraswati mewakili Gianyar di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dan meraih Juara II.

 

Dari perjalanan itu, Sugita kemudian menghimpun para pemenang festival dan mendirikan Panjamu Asrama, yang menjadi tonggak penting kiprahnya di dunia seni pertunjukan Bali. Perannya sebagai Patih Agung, tokoh antagonis yang kuat dan berkarakter, melekat erat dalam ingatan penikmat drama gong lintas generasi.

 

Dedikasi di Seni dan Akademik

Dalam perjalanan kariernya, almarhum tercatat membina dan bergabung dengan berbagai sekaa drama gong ternama, di antaranya Wira Bhuana, Kerthi Bhuana, Bintang Remaja Gianyar, dan Bandana Budaya.

 

Bersama Bintang Remaja Gianyar, ia sukses meraih Juara I PKB 1993. Setahun kemudian, Bandana Budaya yang dibinanya meraih Juara II PKB 1994, serta mengantarkan sekaa drama gong duta Kota Denpasar meraih Juara I PKB 1995.

 

Selain sebagai seniman yang teguh menjaga pakem dan nilai tradisi Bali, Prof. Wayan Sugita juga mengabdikan diri di dunia akademik. Ia mengajar sebagai dosen di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan resmi menyandang gelar Guru Besar pada Oktober 2023. (Tut-Kab).

kabar Lainnya