BADUNG, KABARBALI.ID – Teka-teki siapa nakhoda baru Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung akhirnya terjawab. Panitia Seleksi (Pansel) resmi menetapkan duet pimpinan baru untuk mengisi posisi strategis di BUMD pangan tersebut.
Kompiang Gede Pasek Wedha dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama, sementara I Made Anjol Wiguna ditetapkan sebagai Direktur Umum. Penetapan ini diumumkan langsung oleh Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, usai wawancara akhir di Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, Kamis (22/1/2026).
Bupati Adi Arnawa tidak memberikan “karpet merah” yang nyaman bagi direksi terpilih. Ia justru memberikan peringatan keras. Jabatan ini akan dievaluasi setiap tahun, dan bagi mereka yang gagal memenuhi ekspektasi, pintu keluar sudah terbuka lebar.
“Saya akan melakukan evaluasi setiap tahun. Dalam setiap tahun itu kinerja bapak buruk, mohon maaf sekali, siap-siap. Saya tidak bisa dipengaruhi siapapun, saya lebih takut sama rakyat,” tegas Adi Arnawa dengan nada lugas.
Mantan Sekda Badung ini meminta para direksi membuktikan janji-janji yang disampaikan saat seleksi di depan tim Pansel. Ia tidak ingin visi-misi tersebut hanya berakhir di atas kertas.
“Buktikan apa yang bapak pernah sampaikan ke tim pansel, bukan hanya lips service saja, tapi implementasikan,” cetusnya.
Adi Arnawa menekankan bahwa Perumda MGS tidak boleh hanya berorientasi pada laba semata. Misi utamanya adalah memperkuat ketahanan pangan dan menjadi “pelindung” bagi petani lokal di Badung. Ia ingin kehadiran Perumda memberikan dampak nyata, terutama pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP).
“Saya ingin direksi terpilih memastikan gabah-gabah petani (terserap). Saya kepingin petani di Badung benar-benar merasakan bangga jadi petani,” ujarnya.
Bahkan, Bupati menjanjikan insentif pendidikan bagi keluarga petani. Anak-anak petani yang ingin kuliah S1 akan diberikan beasiswa sebagai langkah nyata meringankan beban mereka.
Terkait persoalan inflasi, Adi Arnawa mengingatkan jajarannya agar tidak hanya terpaku pada angka statistik ketersediaan barang. Ia meminta jajarannya memahami “subjek” di balik pangan, yaitu petani itu sendiri.
“Saya tidak mau melihat inflasi itu hanya mikirin bagaimana ketersediaan, tapi kita tidak pernah mengerti subjeknya petani, sehingga kita berikan insentif,” jelasnya. (Kri-Kab).