Makna Anggar Kasih Tambir Bertepatan Kajeng Kliwon: Hari Penyucian Diri dan Keseimbangan Niskala

Anggar Kasih Tambir Bertepatan Kajeng Kliwon: Hari Penyucian Diri dan Keseimbangan Niskala./gettyimages

KABARBALI.ID — Umat Hindu di Bali kembali memperingati Anggara Kliwon Wuku Tambir atau yang lebih dikenal sebagai Anggar Kasih Tambir, sebuah hari suci yang datang setiap enam bulan sekali.

Keistimewaan Anggar Kasih Tambir semakin kuat karena bertepatan dengan hari suci Kajeng Kliwon, yang jatuh setiap 15 hari sekali dalam kalender Bali.

Pertemuan dua hari sakral ini dipercaya sebagai momentum penting untuk penyucian diri, peleburan kecemaran pikiran, serta menjaga keseimbangan alam sekala dan niskala.

“Anggar Kasih adalah hari untuk mewujudkan cinta kasih kepada diri sendiri, dengan jalan pembersihan lahir dan batin,” sebagaimana disebutkan dalam ajaran wariga Bali.

Di tahun 2026 ini anggara kasih tambir dilaksanakan pada Selasa (13/1/2026) dan 11 Agustus 2026.

Makna Anggar Kasih Tambir

Secara wariga, Anggar Kasih Tambir merupakan pertemuan tiga unsur waktu, yakni:

  • Anggara (Selasa) dari unsur Saptawara
  • Kliwon dari unsur Pancawara
  • Tambir dari unsur Wuku

Pertemuan Anggara dan Kliwon inilah yang disebut Anggar Kasih, dimaknai sebagai hari untuk menumbuhkan kasih sayang terhadap diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Pada hari ini, umat dianjurkan melakukan pembersihan diri (melukat), perenungan suci, serta persembahyangan dengan menghaturkan banten dan yadnya sesuai kemampuan.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, Anggar Kasih Tambir adalah saat Sang Hyang Ludra melakukan yoga untuk melebur segala kecemaran, bencana, dan kekuatan negatif di dunia.

Kesakralan Kajeng Kliwon

Bertepatan dengan Anggar Kasih Tambir, Kajeng Kliwon juga memiliki kedudukan sakral. Kajeng Kliwon merupakan pertemuan:

  • Kajeng dari unsur Triwara
  • Kliwon dari unsur Pancawara

Kajeng diyakini sebagai hari prabhawa Sang Hyang Durga Dewi, manifestasi kekuatan Bhuta Kala, sementara Kliwon merupakan prabhawa Sang Hyang Siwa sebagai kekuatan dharma.

“Kajeng Kliwon diyakini sebagai hari Sang Hyang Siwa melakukan yoga samadi demi keselamatan dunia,” demikian kepercayaan umat Hindu.

Karena kuatnya energi niskala, umat diharapkan lebih berhati-hati dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta memperbanyak penyucian diri.

Persembahan dan Makna Segehan

Pada hari Kajeng Kliwon dan Anggar Kasih Tambir, umat Hindu umumnya menghaturkan persembahan di merajan, pura, dan tempat suci lainnya, berupa:

  • Canang sari, canang raka, puspa harum
  • Segehan kepelan, segehan putih kuning, hingga segehan panca warna

Di depan pintu pekarangan biasanya dihaturkan sajen kepada Sang Hyang Durga Dewi, disesuaikan dengan tempat dan kemampuan masing-masing.

Segehan dimaknai sebagai suguhan kepada Bhuta Kala agar tidak mengganggu kehidupan manusia, sekaligus sarana menetralisir limbah pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia.

“Semua jenis banten adalah simbol diri manusia, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi, dan representasi Bhuana Agung,” sebagaimana tercantum dalam Lontar Yajna Prakrti.

Filosofi Unsur Segehan

Setiap unsur segehan mengandung makna mendalam:

  • Nasi putih dua kepal: lambang rwa bhineda
  • Jahe: semangat yang tidak emosional
  • Bawang: kesejukan pikiran tanpa sikap acuh
  • Garam: sifat netral untuk menetralisir energi negatif
  • Tetabuhan arak, tuak, berem: lambang pembersihan dan sterilisasi unsur negatif

Prosesi metabuh diyakini mampu menghilangkan pengaruh buruk, baik secara niskala maupun simbolis dalam kehidupan sehari-hari. (Kab).

kabar Lainnya