KabarBali.id – Jika Anda sering nongkrong di pusat Kota Denpasar atau sekadar lewat di tongkrongan anak muda Bali, pasti telinga Anda sudah tidak asing dengan kata “Khe”. Meskipun terdengar unik dan santai, kata ini merupakan salah satu fenomena evolusi bahasa yang sangat populer di kalangan Gen Z maupun Milenial di Bali.
Bersama dengan kata “Cai” dan “Kamu”, ketiganya merujuk pada orang kedua tunggal. Namun, tahukah Anda ada aturan “tak tertulis” dalam penggunaannya? Yuk, bedah kamus gaul Bali berikut ini!
Banyak yang bertanya-tanya, dari mana asal kata “Khe” (dibaca: ké)? Beberapa pemerhati bahasa menduga kata ini merupakan hasil evolusi dari bahasa Jawa “Kowe”. Melalui pergaulan lintas budaya, kata tersebut diserap menjadi “Kuwe”, lalu menyusut menjadi “Khe” yang kini menjadi ciri khas sapaan informal di wilayah Denpasar dan sekitarnya.
Penggunaannya sangat spesifik: hanya untuk teman akrab atau sahabat dekat. Menggunakan kata “Khe” kepada orang yang baru dikenal atau orang tua justru bisa dianggap kurang sopan.
Walaupun sama-sama berarti “kamu”, keduanya memiliki nuansa yang sedikit berbeda:
Cai (atau Ci/Chi): Merupakan kosakata bahasa Bali standar untuk tingkatan Andap (biasa). Kata ini sangat umum digunakan di seluruh Bali dalam percakapan sehari-hari antar teman pria.
Khe: Lebih bersifat “slang” atau gaul lokal. Menggunakan kata “Khe” biasanya menciptakan suasana yang lebih lucu, santai, dan menunjukkan kedekatan yang sangat intim antar kawan.
Contoh dalam Percakapan: Agar lebih paham, simak gaya bicara khas anak muda Denpasar ini:
“Dah pernah khe ke RTB? Belum pernah?! Klee… jeg desa kali khe nok!” (Sudah pernah kamu ke RTB? Belum pernah?! Ya ampun… kampungan banget kamu ya!)
Panduan Tingkatan Sapaan ‘Kamu’ dalam Bahasa Bali:
Halus (Rika/Ipun): Digunakan untuk orang yang dihormati atau belum dikenal.
Baku/Andap (Cai/Nyai): Digunakan untuk teman sebaya atau yang sudah akrab.
Gaul (Khe/Kuwe): Digunakan khusus untuk sahabat karib dalam suasana bercanda.
Bahasa Bali dikenal dengan tingkatan Anggah-Ugguhing basa. Meskipun “Khe” dan “Cai” terdengar seru, pastikan Anda melihat lawan bicara. Di hari-hari suci atau momen formal di Pura, tetap gunakan bahasa Bali yang baku atau halus untuk menjaga etika dan tata krama. (Kab).