KABARBALI.ID – Buda Wage Merakih, yang juga dikenal sebagai Buda Cemeng Merakih, merupakan salah satu hari penting dalam kalender Hindu Bali. Hari raya ini hadir setiap 210 hari sekali atau enam bulan kalender Bali, sebagai pertemuan antara Buda (Rabu) dalam Saptawara, Wage dalam Pancawara, dan Wuku Merakih.
Meski kerap dilekatkan dengan istilah “cemeng” atau hitam yang bermakna gelap, Buda Wage Merakih justru memiliki makna mendalam tentang refleksi diri, kehati-hatian, dan pengelolaan rezeki, baik secara spiritual maupun material.
Istilah cemeng dalam Buda Cemeng Merakih tidak selalu bermakna negatif. Dalam konsep wariga Bali, “gelap” lebih dimaknai sebagai fase kontemplasi, pendalaman batin, dan evaluasi hidup.
Perhitungan Buda Wage Merakih terjadi saat:
Hari Rabu (Buda)
Bertemu dengan Wage
Bertepatan dengan Wuku Merakih
Momentum ini berulang setiap 210 hari, menjadikannya salah satu siklus penting dalam pawukon Bali.
Dalam perhitungan ala ayuning dewasa, Buda Wage Merakih termasuk hari yang baik untuk kegiatan tertentu, terutama yang berkaitan dengan membangun rumah atau struktur fisik, meskipun tetap perlu menyesuaikan dengan dewasa ayu lainnya.
Bagi masyarakat Bali yang lahir pada hari Buda Wage Merakih, hari ini menjadi otonan, atau ulang tahun spiritual. Otonan dipandang sebagai momen penyucian diri, introspeksi, dan memohon keseimbangan hidup.
Mereka yang lahir pada hari ini diyakini memiliki karakter khas yang kuat, terutama terkait perilaku dan keuangan.
Beberapa ciri wataknya antara lain:
Berani, tegas dalam berbicara, dan memiliki sikap sopan
Senang bepergian, termasuk pada malam hari
Menghargai uang, berhati-hati, dan adil dalam mengambil keputusan
Memiliki kecerdasan dalam mengelola rezeki
Namun, wariga Bali juga mencatat beberapa sisi yang perlu dikendalikan, seperti:
Kecenderungan menjual barang pribadi
Keinginan terhadap milik orang lain
Sulit mengendalikan hasrat atau keinginan tertentu
Keseimbangan batin dan pengendalian diri menjadi kunci agar potensi positifnya berkembang optimal.
Berbeda dengan Buda Wage Klawu yang identik dengan pemujaan Dewi Rambut Sedana sebagai simbol kemakmuran, Buda Wage Merakih memiliki keterkaitan dengan pemujaan Bhatara Manik Galih.
Pemujaan ini sering dihubungkan dengan:
Kecerdasan finansial
Ketajaman pertimbangan hidup
Kesadaran akan nilai rezeki dan usaha
Hari ini pun kerap dimanfaatkan untuk melakukan sembahyang reflektif, memohon ketenangan batin serta keseimbangan antara materi dan spiritual. (Red-Kab).