“Bukan Sekadar Tren! Bos Telkom Ungkap Alasan Anak SD di Bali Wajib ‘Melek’ AI Sekarang Juga”

Komisaris Telkom Rizal Mallarangeng menegaskan pentingnya literasi AI sejak usia dini di Bali.

DENPASAR, KABARBALI.ID – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Komisaris PT Telkom Indonesia, Rizal Mallarangeng, menegaskan bahwa pengenalan AI harus dimulai sejak usia dini guna mencetak generasi yang kompetitif secara global.

Rizal mengibaratkan AI sebagai general purpose technology. Dampaknya bukan main-main, ia menyetarakan signifikansi AI dengan penemuan mesin uap yang memicu revolusi industri di masa lalu.

“Sangat penting untuk dikenalkan dan dimanfaatkan sejak usia dini karena teknologi ini bisa digunakan apa saja,” ujar Rizal saat ditemui di Denpasar, Jumat (6/2/2026).

Menurut Rizal, jika mesin uap dahulu mentransformasi operasional kereta api dan pabrik, AI memiliki fleksibilitas yang lebih luas di era modern. Teknologi ini merambah hampir seluruh lini kehidupan manusia.

“Teknologi AI juga bisa digunakan untuk produksi, konsumsi, pendidikan hingga komunikasi,” tuturnya menjelaskan betapa luasnya spektrum dampak AI.

Darurat Literasi: Jangan

Sampai Bangsa Tertinggal
Ia mendorong dunia pendidikan di Indonesia untuk segera beradaptasi. Menurutnya, literasi digital harus merambah bangku Sekolah Dasar (SD) sebagai fondasi awal. Ia khawatir jika momentum ini terlewatkan, anak muda Indonesia hanya akan menjadi penonton di masa depan.

“Ya harus menguasai aplikasi teknologi baru ini, kalau tidak kasihan, mereka bisa ketinggalan,” tegas Rizal.

Ia menargetkan penguasaan teknologi ini bisa terus diasah hingga jenjang SMP, SMA, hingga mahasiswa.

Infrastruktur Bali: 4G Sudah Lebih dari Cukup

Menjawab keraguan soal kesiapan infrastruktur, Rizal memastikan bahwa masyarakat tidak perlu menunggu jaringan 5G merata untuk mulai belajar AI. Baginya, konektivitas 4G yang sudah stabil di kota-kota besar seperti Denpasar sudah memadai.

“Sebenarnya 4G saja cukup untuk AI, 5G itu untuk robotik untuk skala berbeda.

Untuk masalah AI, (5G) belum terlalu relevan. Dengan 4G, aplikasi AI sudah cukup untuk membuat video atau lagu,” jelasnya.

Meski begitu, ia mengakui masih ada tantangan di beberapa titik di Bali yang masih terjebak di jaringan 2G. Inilah yang menjadi fokus Telkom ke depan: memastikan “kendaraan” digital berupa fiber optik menjangkau pelosok.

“Tugas pemerintah, tugas Telkom adalah digitalisasi sejauh mungkin. Perluas akses digital itu penting, kalau tidak ada akses kan tidak ada AI,” pungkas Rizal. (Naf-Kab).

kabar Lainnya