Dari Longsor Timuhun hingga Banjir Bandang Ped, Total Kerusakan Capai Rp 1,6 M Lebih

KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Klungkung dalam beberapa hari terakhir memicu rentetan bencana alam di berbagai titik.

Berdasarkan data rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung periode 18-22 Januari 2026, total kerugian material ditaksir mencapai angka fantastis yakni Rp 1.666.000.000.

Kalaksa BPBD Klungkung, I Putu Widiada, Jumat (23/1/2026), mengungkapkan bahwa intensitas hujan tinggi dan angin kencang menjadi pemicu utama terjadinya tanah longsor, banjir bandang, hingga cuaca ekstrem di tiga kecamatan, yakni Banjarangkan, Dawan, dan Nusa Penida.

Nusa Penida Alami Kerusakan Terparah

Dijelaskan, Nusa Penida menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling masif. Kejadian banjir bandang di Banjar Prapat, Desa Ped, pada Rabu (21/1/2026) mengakibatkan kerusakan berat di Pura Segara dengan nilai kerugian mencapai Rp 350 juta.

“Di lokasi yang sama, rumah warga milik Ketut Roni Saputra juga luluh lantah dengan taksiran kerugian Rp 100 juta,”ujar pejabat asal Tabanan ini.

Tak berhenti di sana, Pura Ulundanu di Banjar Adat Penida, Desa Sakti, tercatat mengalami kerugian terbesar dalam satu titik kejadian.

“Pura Ulundanu diterjang tanah longsor pada Rabu siang yang merusak candi bentar, penyengker, hingga sepuluh pelinggih. Taksiran kerugian di titik ini mencapai Rp 838 juta,” ungkapnya.

Daftar Kerusakan Fasilitas Umum dan Rumah Warga

Selain Nusa Penida, bencana juga menyasar pemukiman warga di Kecamatan Dawan dan Banjarangkan:

Kecamatan Banjarangkan: Pura Manik Tirta di Desa Timuhun mengalami tanah longsor pada 18 Januari yang merusak tiga pelinggih (Rp 50 juta).

Kecamatan Dawan: Empat rumah warga di Desa Dawan Kaler, Gunaksa, dan Paksebali mengalami kerusakan atap akibat cuaca ekstrem dengan total kerugian puluhan juta rupiah.

Kecamatan Nusa Penida (Tambahan): Selain pura, angin puting beliung merusak Bale Piasan Pura Paibon Bhujangga Waisnawa (Rp 150 juta) serta beberapa rumah warga di Desa Suana dan Sekartaji akibat cuaca ekstrem.

Menyikapi total kerugian yang mencapai Rp 1,6 miliar lebih ini, I Putu Widiada mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di area perbukitan rawan longsor dan wilayah pesisir.

“Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi pascabencana untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan optimal,” pungkasnya.(Sta-Kab).

kabar Lainnya