GIANYAR, KABARBALI.ID – Jagat media sosial di Bali mendadak heboh dengan kabar dijualnya sebuah sekolah di Gianyar seharga Rp 2,8 miliar. Sekolah tersebut adalah SMP Keramas (kini bertransformasi menjadi SMK Pariwisata Perhotelan), institusi pendidikan legendaris yang telah puluhan tahun menjadi tumpuan harapan anak-anak desa.
Menanggapi isu panas tersebut, Plt Ketua Yayasan Perguruan Keramas, Dewa Gede Mudita Agung, angkat bicara dengan nada tenang namun tegas. Ia memastikan bahwa kabar tersebut tidaklah benar.
“Belum Ada Kesepakatan Jual”
Dewa Gede Mudita Agung yang didampingi pengurus Gusti Made Puja Armaya menegaskan bahwa yayasan ini didirikan dengan tujuan mulia, bukan untuk mencari profit pribadi.
“Kita belum ada kesepakatan untuk menjual. Tidak sesuai dengan yang beredar di media sosial. Tujuan awal sekolah ini mulia, untuk menampung anak-anak kurang mampu,” tegasnya, Kamis (26/2/2026).
Lahan seluas 11,13 are dengan fasilitas 8 ruang kelas itu, jika memang dihargai Rp 2,8 miliar, justru dinilai terlalu murah dibanding harga pasar. Namun bagi pengurus, nilai sejarah sekolah ini tak bisa diukur dengan uang.
Sejarah Berdarah-darah: Berdiri dengan Bambu dan Ngayah
SMP Keramas bukan sekolah sembarangan. Berdiri pada 1 Agustus 1965, sekolah ini lahir dari keprihatinan para tokoh desa saat akses pendidikan menuju Kota Gianyar sangat sulit dan mahal.
Para tetua desa seperti almarhum I Gusti Putu Wartawan dan I Made Durnala berjuang membangun sekolah ini secara swadaya. Di awal berdiri, guru-guru mengajar tanpa bayaran alias ngayah.
“Minum saja guru tidak dapat. Bangunan dibangun dengan urunan bambu dan listrik dipasang swadaya. Ini milik desa, bukan warisan keluarga,” kenang salah satu pengurus dengan nada reverentif.
Kalah Saing dengan Sekolah Negeri, Kini Vakum Murid
Zaman berubah, tantangan pun datang. Kehadiran SMP Negeri 2 Blahbatuh membuat SMP Keramas kehilangan peminat. Demi menyelamatkan gedung, pada 2018 yayasan mendirikan SMK Pariwisata Perhotelan.
Meski sempat mencetak lulusan yang terserap di hotel-hotel mewah seperti Komune hingga Swan Villa, tahun ini sekolah kembali terpuruk. Kelas dua hanya berisi 11 siswa, kelas tiga 16 siswa, dan tahun ajaran baru ini mereka tidak mendapatkan murid sama sekali. Operasional hanya mengandalkan dana BOS.
Rencana Masa Depan: Dikembalikan ke Desa
Alih-alih menjual ke pihak swasta, wacana yang menguat saat ini adalah mengembalikan pengelolaan aset sepenuhnya kepada Desa Keramas.
“Pengurus bersama desa yang nanti buat rekomendasi. Tidak bisa sembarang menjual. Ini milik desa,” tegas Dewa Mudita.
Salah satu alumni sukses, Gusti Putu Sumartana (Eks Manajer Telkom), berharap semangat sosial sekolah ini tetap hidup. “Kalau tidak ada sekolah ini, mungkin saya tidak bisa lanjut sekolah. Saya harap jika diambil alih desa, misi sosialnya terus berlanjut,” tuturnya. (Tut-Kab).