DENPASAR, KABARBALI.ID — Gubernur Bali Wayan Koster menerima audiensi Koperasi Bina Usaha Kerthi Bali di Jayasabha, Denpasar, Jumat (16/1). Pertemuan tersebut membahas penguatan koperasi multipihak yang menghimpun koperasi-koperasi eksisting di Bali, sekaligus menegaskan arah pembangunan ekonomi daerah yang bertumpu pada kearifan lokal.
Dalam audiensi itu, Gubernur Koster menekankan pentingnya koperasi menjadi motor penggerak ekonomi Bali dengan mengedepankan produk asli Bali yang memiliki identitas dan branding kuat. Langkah tersebut merupakan implementasi nyata dari konsep Ekonomi Kerthi Bali, yakni sistem ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal.
“Koperasi harus menjadi penggerak utama ekonomi Bali berbasis potensi lokal. Produk pertanian, peternakan, dan seluruh turunannya harus menjadi kekuatan utama kita,” tegas Gubernur Koster.
Fokus Pertanian dan Peternakan
Gubernur Koster menegaskan pengembangan koperasi perlu difokuskan pada sektor pertanian dan peternakan sebagai pilar ketahanan pangan dan ekonomi daerah. Menurutnya, Bali memiliki banyak UMKM pangan dengan skala usaha kecil, namun jumlahnya besar dan memiliki keunggulan kualitas.
“UMKM pangan kita ini kecil-kecil, tetapi banyak. Kalau ditata dengan baik, bisa kita dorong agar bergaung di level nasional,” ujarnya.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian khusus adalah peternakan babi. Bali dinilai memiliki sumber daya manusia peternak babi yang unggul dan berpengalaman. Dengan pengelolaan yang lebih terencana dan intensif, Bali berpeluang mengambil peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan pasar babi nasional.
Pemprov Bali Perkuat Regulasi dan Infrastruktur
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali akan memperkuat regulasi dan infrastruktur, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Pengembangan peternakan babi akan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pemurnian dan penguatan plasma nutfah babi lokal Bali yang diintensifkan di lokasi tertentu, serta pengembangan babi ras guna memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.
Selain peternakan, Pemprov Bali juga mendorong pengembangan komoditas pertanian unggulan, salah satunya padi Sudaji. Berdasarkan hasil riset, padi Sudaji memiliki masa panen relatif singkat, sekitar 105 hari, dengan hasil per hektare yang menjanjikan, sehingga dinilai potensial mendukung kemandirian pangan Bali.
Gubernur Koster menegaskan seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem Ekonomi Kerthi Bali yang berkeadilan dan berkelanjutan, serta menghindarkan perekonomian daerah dari dominasi kapitalisme yang tidak berpihak pada rakyat.
“Kita ingin ekonomi Bali tumbuh kuat, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai lokal, koperasi, dan kebersamaan. Inilah Ekonomi Kerthi Bali,” pungkasnya. (Rls-Kab).