KABARBALI.id – Perdebatan mengenai durasi penggunaan gawai (screen time) pada anak-anak kembali mencuat. Seorang peneliti di bidang ilmu saraf kognitif, Liv, yang dikutip dari yourtanggo mengungkapkan bahwa dampak paparan layar yang berlebihan pada bayi dan balita dapat terlihat hanya dalam waktu sepuluh menit setelah pertemuan pertama.
Liv, yang bekerja di laboratorium ilmu saraf kognitif dengan subjek bayi usia tiga bulan hingga balita tiga tahun, menyebutkan adanya perbedaan kontras antara anak yang dibesarkan dengan akses layar konstan (sering disebut “anak iPad”) dengan mereka yang tidak.
“Setiap kali ada bayi pengguna iPad datang, kami para peneliti langsung tahu. Ada perbedaan besar yang bisa terdeteksi hanya dalam sepuluh menit pertama,” ujar Liv dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu (14/3/2026).
Salah satu ciri paling mencolok dari anak yang terpapar layar berlebihan adalah reaksi emosional yang ekstrem atau tantrum saat perangkat teknologi tersebut dijauhkan dari jangkauan mereka. Liv mengisahkan pengalamannya melihat bayi berusia delapan hingga sepuluh bulan yang sama sekali tidak tertarik pada mainan fisik, namun langsung bereaksi agresif ingin meraih iPad begitu melihatnya.
“Bagi mereka, tidak bisa mengakses iPad terasa seperti akhir dunia,” tambahnya.
Fenomena “orang tua iPad”—sebutan bagi orang tua yang mengandalkan teknologi sebagai pengganti pengasuhan—dinilai mengkhawatirkan. Menurut penelitian, ketergantungan pada layar untuk menghibur anak dapat menghambat kualitas interaksi orang tua dan anak yang seharusnya menjadi fondasi perkembangan emosional.
Paparan layar yang tinggi pada masa bayi sering kali dikaitkan dengan masalah dalam pemrosesan kognitif dan penurunan prestasi akademik di masa depan. Namun, Liv memberikan catatan bahwa tidak semua penggunaan layar bersifat buruk.
Penggunaan gawai untuk materi edukasi dalam durasi yang terkendali tetap diperbolehkan, bahkan sangat bermanfaat bagi anak-anak dengan kondisi neurodivers atau gangguan perkembangan tertentu.
Alih-alih memberikan tablet sebagai jalan pintas untuk menenangkan anak, para pakar menyarankan orang tua untuk kembali ke metode stimulasi tradisional. Penggunaan buku mewarnai, permainan papan (board games), teka-teki, hingga aktivitas luar ruang di taman bermain dinilai jauh lebih efektif dalam mengajarkan keterampilan hidup yang berharga.
“Tablet baik jika digunakan secukupnya, tetapi jangan pernah diandalkan untuk mengajarkan anak-anak keterampilan yang seharusnya mereka pelajari di lingkungan yang lebih positif dan interaktif,” tutupnya. (Kab).