BADUNG, KABARBALI.ID – Pemerintah Kabupaten Badung mengambil langkah radikal untuk mengakhiri rentetan tragedi di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Petang. Jembatan tertinggi di Bali yang kini kerap dicap maut itu mulai dipasangi sistem pengamanan berlapis, mulai dari teknologi digital hingga pagar fisik.
Langkah ini diambil setelah catatan kelam sepanjang tahun 2025, di mana angka kejadian dan percobaan bunuh diri di lokasi tersebut melonjak drastis.
Kepala Diskominfo Kabupaten Badung, I Gusti Ngurah Gede Jaya Saputra, mengungkapkan pihaknya telah menambah dua unit kamera pengawas (CCTV) di posisi tengah dan timur jembatan. Kini, total ada tiga “mata” digital yang mengawasi setiap jengkal jembatan selama 24 jam nonstop.
“Untuk saat ini, kami telah menambahkan dua CCTV di posisi tengah dan timur. Total ada tiga CCTV yang aktif memantau aktivitas selama 24 jam. Kami ingin respons di lapangan bisa dilakukan lebih cepat melalui deteksi dini ini,” ujar Jaya Saputra usai Rapat Koordinasi di Kantor Camat Petang, Rabu (21/1/2026).
Pengamanan tidak hanya berhenti pada kamera. Plt Camat Petang, Anak Agung Ngurah Darma Putra, membeberkan bahwa Dinas PUPR Badung juga telah memasang kawat berduri di sepanjang pagar jembatan untuk menyulitkan siapa pun yang berniat melakukan aksi nekat.
“Sepanjang 2025 tercatat cukup banyak kejadian bunuh diri. Selain CCTV dan kawat berduri, akan ada petugas yang berjaga di pos-pos pengamanan,” tegas Darma Putra.
Pemkab Badung mengaku gerah dengan stigma negatif yang kini melekat pada Tukad Bangkung. Jaya Saputra menegaskan, misi utama dari kolaborasi lintas sektor ini adalah mengembalikan wajah Tukad Bangkung sebagai destinasi wisata unggulan di Bali Utara, bukan lokasi yang memicu konotasi tragis.
“Mudah-mudahan langkah ini menjadi upaya pencegahan yang efektif. Kami ingin mengembalikan Tukad Bangkung sebagai daya tarik pariwisata di Desa Pelaga yang aman dan nyaman bagi siapa pun,” pungkasnya. (Kri-Kab).