GIANYAR, KABARBALI.ID – Persoalan anjing liar di Bali bukan sekadar isu kesejahteraan hewan, melainkan tantangan serius bagi kesehatan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, sebuah gerakan kolaboratif berbasis ilmu kedokteran hewan muncul dari Kabupaten Gianyar, melibatkan mahasiswa koasistensi (KOAS) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana dan UPTD Puskeswan III Gianyar.
Aksi ini mengintegrasikan kesehatan hewan dengan pelestarian ekosistem lokal, memastikan Anjing Bali sebagai warisan ekologi tetap terjaga di tengah pesatnya urbanisasi.
Anjing lokal Bali secara ilmiah diakui memiliki karakteristik genetik khas yang tidak ditemukan di tempat lain. Namun, populasi yang tidak terkontrol dan minimnya perawatan seringkali memicu risiko penyakit zoonosis seperti rabies.
“Kegiatan ini bukan sekadar aksi penyelamatan, tapi bagian dari pendekatan ilmiah untuk mengelola populasi secara sehat, manusiawi, dan berkelanjutan,” ungkap kepala Puskeswan Gianyar III drh. Arya dharma bersama Tim Teknis KIE (Komunikasi Informasi & Edukasi) PDHI Bali.
Dalam kegiatan ini, para calon dokter hewan tidak hanya melakukan praktik klinis di ruang tertutup, tetapi turun langsung ke lingkungan masyarakat untuk melakukan:
Identifikasi & Penyelamatan: Mengamankan anjing sakit atau cedera secara humanis.
Terapi Medis: Penanganan kasus kulit (scabies/jamur), infeksi luka, hingga pemberian nutrisi dan antibiotik.
Edukasi Publik: Mensosialisasikan pentingnya vaksinasi rabies, sterilisasi, dan tanggung jawab pemilik hewan.
Bagi mahasiswa KOAS, interaksi langsung dengan kasus nyata di Gianyar menjadi pengalaman berharga. Mereka belajar mengelola hewan dengan tingkat stres tinggi serta berkomunikasi dengan komunitas pecinta hewan.
Hal ini bertujuan membentuk dokter hewan masa depan yang tidak hanya kompeten secara sains, tetapi juga memiliki empati sosial tinggi.
Gerakan yang dimulai dari Puskeswan di Gianyar ini diharapkan menjadi pemantik bagi daerah lain. Penanganan anjing liar terbukti bisa dilakukan dengan pendekatan yang ilmiah tanpa mengesampingkan sisi kemanusiaan.
Upaya ini adalah implementasi nyata dari filosofi harmoni antara manusia dan alam di Pulau Dewata. Dengan menjaga kesehatan anjing liar, secara tidak langsung masyarakat juga menjaga benteng pertahanan kesehatan lingkungan dari ancaman penyakit menular. (Tut-Kab).