KABARBALI.ID – Umat Hindu di Bali hari ini, Rabu (28/1/2026), merayakan rahinan Kajeng Kliwon Enyitan.
Hari ini dikenal sebagai waktu yang sakral sekaligus “keramat”, di mana kekuatan dualitas alam semesta bertemu untuk diharmonisasikan melalui berbagai ritual suci.
Kajeng Kliwon Enyitan merupakan pertemuan antara unsur Tri Wara (Kajeng) dan Panca Wara (Kliwon) yang dilaksanakan tepat setelah hari suci Tilem (bulan mati). Dalam filosofi Hindu, momen ini adalah penyatuan kekuatan besar antara Sang Hyang Durga Dewi dan Sang Hyang Siwa.
“Menyatunya unsur kekuatan dari Siwa dan Durga akan lahir kekuatan Dharma Wisesa. Dari sini lahirnya kesidhian, kesaktian, dan kemandhian yang selalu dikendalikan oleh kekuatan Dharma,” sebagaimana dikutip dari Lontar Kala Maya Tattwa.
Hari Kajeng Kliwon dipercayai sebagai waktu di mana kekuatan negatif (niskala) cenderung lebih kuat. Sang Tiga Bhucari—Sang Bhuta Bhucari, Sang Kala Bhucari, dan Sang Durga Bhucari—diyakini memohon restu kepada Sang Durga Dewi untuk menguji manusia yang melanggar ajaran dharma.
Untuk itu, penyucian diri lahir batin menjadi sangat krusial. Selain bersembahyang, setiap kepala keluarga diimbau untuk menghaturkan “suguhan” atau persembahan di tempat-tempat spesifik di lingkungan rumah.
Berdasarkan kitab Manava Dharma Sastra, persembahan atau segehan hendaknya dihaturkan di tempat-tempat terjadinya “pembunuhan” atau aktivitas rumah tangga yang tajam, seperti:
Ada dua sarana utama yang menjadi simbol keseimbangan dalam rahinan ini:
“Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan antara manusia dengan semua makhluk ciptaan Tuhan. Melalui banten, kita menetralisir kekotoran atau mala dari dalam diri sendiri,” tulis keterangan dalam Lontar Yajna Prakerti.
Umat Hindu meyakini bahwa dengan melaksanakan ritual secara tulus sesuai kemampuan, energi negatif dari alam Bhuta akan bertransformasi menjadi energi positif atau alam Dewa, demi keselamatan dunia beserta isinya. (Kab).