Kalahkan Penjualan Red Label di Bandara, Wayan Koster Targetkan Arak Bali Setara Soju dan Sake

Pohon kepala ; Koster instruksikan percepatan tanam pohon kelapa guna amankan bahan baku arak.

DENPASAR, KABARBALI.ID – Gubernur Bali, Wayan Koster, menargetkan produk minuman tradisional Arak Bali untuk naik kelas dan bersaing ketat dengan minuman alkohol ternama dunia. Guna mendukung ambisi tersebut, Koster menginstruksikan percepatan penanaman pohon kelapa sebagai bahan baku utama produksi arak di seluruh wilayah Bali.

Dalam rapat paripurna DPRD Provinsi Bali, Rabu (25/3/2026), Koster mengungkapkan bahwa saat ini telah tertanam sekitar 17.000 pohon kelapa. Namun, jumlah ini perlu terus ditambah untuk memenuhi kebutuhan upacara adat sekaligus menjaga stabilitas suplai industri tuak dan arak.

“Harus dilakukan percepatan penanaman pohon kelapa, agar dalam waktu empat tahun sudah panen. Dengan demikian, produksi terus meningkat karena semakin diminati wisatawan dan kuota ekspor dapat kita penuhi,” ujar Koster.

Arak Bali Jadi “Best Seller” di Bandara

Fenomena menarik diungkapkan Koster terkait serapan pasar di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Produk lokal kebanggaan Bali ini diklaim menunjukkan tren penjualan yang luar biasa, bahkan melampaui merek-merek minuman impor ternama.

“Laku keras, best seller mengalahkan Red Label. Tepuk tangan untuk Arak Bali. Jadi luar biasa,” ungkap Gubernur asal Buleleng tersebut sembari tersenyum.

Melihat konsumsi yang mencapai 400 hingga 600 liter per bulan, Koster menegaskan pentingnya kedaulatan bahan baku agar industri lokal tidak terhambat di tengah tingginya permintaan pasar global.

Bantah Isu Bisnis Pribadi

Menanggapi isu yang beredar bahwa dirinya memiliki keterlibatan bisnis dalam industri arak, Koster memberikan klarifikasi tegas. Ia menyatakan bahwa perannya murni sebagai fasilitator kebijakan demi kesejahteraan petani, khususnya di Kabupaten Karangasem.

“Gara-gara saya kencang ngurusin itu, dikira saya punya bisnis. Tidak, saya tidak punya bisnis, saya tidak bisa bisnis. Saya hanya pengurus dalam membangun pendapatan masyarakat Bali,” tegas Gubernur dua periode ini.

Kemudahan Izin dan Peran Koperasi

Koster juga mengapresiasi dukungan Menteri Perindustrian yang telah memberikan izin produksi langsung kepada Pemerintah Provinsi Bali melalui Perumda. Kebijakan ini dinilai memangkas biaya perizinan hingga ratusan juta rupiah yang selama ini membebani pelaku usaha.

Saat ini, terdapat sekitar 30 koperasi arak di Bali yang mulai merasakan dampak positif dari kemudahan akses modal dan legalitas. Dengan ekosistem yang makin sehat, Koster yakin Arak Bali mampu berdiri sejajar dengan minuman ikonik negara lain.

“Kita memastikan Arak Bali tidak kalah dengan Soju (Korea), Sake (Jepang), maupun Whiskey (Eropa),” pungkasnya. (Naf-Kab).

 

kabar Lainnya