KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Merebaknya penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak sapi di sejumlah wilayah Bali menjadi perhatian serius Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung. Meski hingga kini belum ditemukan kasus LSD di Klungkung, peternak diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat membeli bibit sapi dari luar daerah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Ida Bagus Gede Juanida, mengungkapkan berdasarkan laporan Dinas Pertanian Provinsi Bali, kasus LSD telah terdeteksi di lima desa di Kabupaten Jembrana. Kondisi tersebut berpotensi memicu penularan ke daerah lain melalui lalu lintas ternak.
“Di Klungkung memang belum ada laporan kasus LSD. Namun dengan adanya temuan di daerah lain di Bali, kami minta peternak tidak lengah, khususnya dalam mendatangkan bibit sapi dari luar,” kata Juanida, Jumat (16/1/2026).
Dijelaskan, LSD merupakan penyakit sapi yang disebabkan oleh virus dengan ciri utama munculnya benjolan atau bentol pada kulit. Meski tingkat kesembuhannya relatif tinggi, LSD berdampak pada penurunan kualitas ternak.
“Kalau sapi kena LSD, sapinya sakit dan ada cacat pada kulit. Ini jelas menurunkan nilai jual, walaupun tingkat kesembuhannya cukup tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencegahan ideal dilakukan melalui vaksinasi pada ternak yang sehat. Namun hingga saat ini, vaksin LSD belum tersedia di Bali. Karena itu, upaya pencegahan difokuskan pada pemutusan rantai penularan.
“Virus LSD bisa menyebar melalui vektor seperti lalat. Maka kebersihan kandang dan desinfeksi rutin sangat penting untuk menekan risiko penularan,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian Klungkung telah melakukan sosialisasi kepada kelompok peternak. Peternak diimbau lebih selektif dalam membeli bibit sapi, menghindari pasokan dari wilayah terindikasi LSD, serta membatasi lalu lintas ternak keluar masuk kandang.
“Kami berharap dengan kewaspadaan bersama, Klungkung tetap bebas dari LSD dan potensi kerugian ekonomi peternak dapat dicegah sejak dini,” pungkas Juanida. (Sta-Kab).