Kebangkitan Sang Maskot : Jalak Bali Lepas dari Jerat Kepunahan, Kini ‘Menjajah’ Desa di Tabanan

Burung Jalak Bali. foto : gettyimages

KABARBALI.ID – Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) bukan sekadar burung dengan kacamata biru yang eksotis. Ia adalah simbol harga diri Pulau Dewata yang nyaris menjadi sejarah. Namun, di tahun 2026 ini, secercah harapan muncul dari hutan Bali Barat hingga persawahan di Tabanan.

Dahulu, pada tahun 2002, dunia konservasi menangis saat populasi liar Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dilaporkan hanya tersisa 6 ekor. Perburuan liar dan hilangnya habitat membuat burung yang diabadikan dalam koin Rp 200 ini masuk dalam status Critically Endangered (Kritis).

Fakta Unik: Si Romantis yang Setia

Bukan tanpa alasan Jalak Bali begitu dicintai. Burung ini dikenal sangat romantis dan bersifat monogamis—hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Selain itu, telur mereka unik dengan warna hijau kebiruan yang cantik.

“Jalak Bali adalah tipe yang riang, suka menari saat bermain air, dan memiliki siulan merdu dengan lengkingan khas,” tulis data pengamatan TNBB. Sayangnya, jarak terbangnya yang pendek (hanya sekitar 56 meter) membuat mereka sangat bergantung pada keutuhan habitat lokal.

Ancaman Proyek Strategis di Bali Utara

Meski populasi meningkat berkat program penangkaran dan kewajiban restocking 10 persen ke alam, tantangan baru muncul. Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan bandara di Sumberklampok mengancam akan melahap sekitar 64 hektar hutan TNBB yang merupakan habitat vital Jalak Bali. Alih fungsi hutan tetap menjadi musuh nomor satu bagi keberlangsungan hidup sang kurik putih.

Desa Tengkudak: Lahirnya “Kampung Jalak Bali”

Kisah sukses luar biasa justru datang dari Kabupaten Tabanan. Dusun Tingkih Kerep di Desa Tengkudak kini resmi menyandang gelar Kampung Jalak Bali. Dimulai dari pelepasan 10 pasang indukan pada Juni 2024, kini populasinya melonjak menjadi 78 ekor hanya dalam waktu satu setengah tahun.

Wayan Yudi Artana, penjaga burung di dusun tersebut, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini karena sinergi antara warga dan desa adat. “Warga menanam pepaya dan buah lokal untuk pakan, sementara desa adat melarang keras perburuan satwa,” ujarnya. Di sini, Jalak Bali terbang rendah di antara perumahan warga, pemandangan yang dulunya mustahil ditemukan.

Repatriasi: Perkici Dada Merah Pulang dari Inggris

Kabar gembira bagi biodiversitas Bali tidak berhenti di situ. Sebanyak 40 ekor Perkici Dada Merah (Trichoglossus forsteni mitchlli) subspesies Bali baru saja dipulangkan (repatriasi) dari Inggris ke Indonesia.

Kegiatan hasil kerja sama BKSDA Bali dengan World Parrot Trust ini mengembalikan burung-burung eksotis tersebut dari Paradise Park, Inggris. Saat ini, mereka menjalani masa karantina dan rehabilitasi di lembaga konservasi di Gianyar sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke hutan Bali.

Langkah ini menjadi sangat krusial karena Perkici Dada Merah juga berstatus Endangered (Terancam Punah) akibat perdagangan ilegal satwa eksotik di masa lalu.

Yang Spesial dari Jalak Bali

1. Penampilan “Kacamata” yang Ikonik

Ciri paling mencolok adalah kulit tanpa bulu di sekitar mata yang berwarna biru tua cerah. Ini sering disebut sebagai “kacamata” alami. Kontras dengan bulunya yang 90% berwarna putih bersih, kecuali sedikit warna hitam di ujung sayap dan ekor.

2. Burung “Setia” (Monogami Sejati)

Jalak Bali adalah simbol kesetiaan. Di alam liar, mereka adalah hewan monogami, yang berarti hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Mereka melakukan segala aktivitas bersama: mencari makan, terbang, hingga menjaga sarang secara bergantian antara jantan dan betina. Jika salah satu mati, pasangannya membutuhkan waktu sangat lama untuk mencari pengganti, atau bahkan tidak sama sekali.

3. Telur Berwarna Unik: Hijau Kebiruan

Berbeda dengan kebanyakan burung yang telurnya berwarna putih atau kecokelatan, telur Jalak Bali memiliki warna yang sangat cantik, yaitu hijau kebiruan (tosca). Ukurannya kecil (sekitar 3 cm) dan berbentuk oval. Jumlah telur yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas ekosistem; semakin subur lingkungannya, semakin banyak telurnya.

4. Jambul yang “Komunikatif”

Di atas kepalanya terdapat jambul indah berwarna putih. Jambul ini bukan sekadar hiasan; Jalak Bali akan menegakkan jambulnya saat sedang merayu pasangan (display) atau saat merasa terancam/bersemangat. Ini adalah alat komunikasi visual utama mereka.

5. “Si Rumahan” yang Malas Terbang Jauh

Jalak Bali adalah burung yang sangat teritorial dan memiliki daya jelajah yang rendah. Mereka jarang terbang jauh dari habitat aslinya di Bali Barat. Radius “wilayah kekuasaan” mereka biasanya hanya sekitar 5 hektar dengan jarak terbang rata-hari yang sangat pendek (sekitar 50–60 meter). Inilah alasan mengapa mereka sulit menyebar secara alami tanpa bantuan manusia.

6. Karakter Riang dan Suka Bersolek

Burung ini memiliki sifat alami yang riang. Mereka sangat suka berkicau (ngoceh) dengan suara lengkingan yang khas. Selain itu, mereka punya hobi bersolek dan menari saat bermain air atau mandi di genangan tanah liat/gerabah, sebuah perilaku yang menunjukkan tingkat kenyamanan mereka terhadap lingkungan.

7. Pernah Menjadi “Artis” Mata Uang

Sebagai bentuk penghormatan dan upaya sosialisasi pelestarian, pemerintah Indonesia mengabadikan gambar Jalak Bali pada uang logam Rp200 emisi tahun 2003. Ini menjadikannya salah satu satwa paling dikenal secara nasional melalui transaksi harian.

8. Indikator Kesehatan Lingkungan

Jalak Bali sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, terutama penggunaan bahan kimia. Di masa lalu, populasinya sempat hancur salah satunya karena penggunaan pestisida keras di lahan pertanian yang mematikan serangga pakan utama mereka. Jadi, di mana ada Jalak Bali yang berkembang biak secara liar (seperti di Desa Tengkudak), itu adalah tanda bahwa ekosistem desa tersebut sangat bersih dan organik. (Kab-berbagai sumber).

kabar Lainnya