Klaim RS di Bali Timur Tembus Rp 1,2 Triliun, BPJS Kesehatan Sebut Biaya Cuci Darah Jadi Penyedot Terbesar

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Klungkung, Gusti Ngurah Catur Wiguna, Inzert mesin cuci darah. foto/red.

KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Klungkung mengungkap adanya ketimpangan yang signifikan antara jumlah iuran yang terkumpul dengan nilai klaim rumah sakit di wilayah Bali Timur (Klungkung, Gianyar, Bangli, dan Karangasem).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Klungkung, Gusti Ngurah Catur Wiguna, memaparkan bahwa nilai klaim yang harus dibayarkan ke pihak rumah sakit setiap tahunnya kini mencapai angka Rp 1,2 triliun. Angka ini terpaut jauh dari total iuran yang terkumpul dari kepesertaan di empat kabupaten tersebut yang hanya mencapai Rp 623 miliar.

“Ada selisih yang cukup besar antara dana yang terkumpul dengan realisasi klaim dari fasilitas kesehatan di wilayah Bali Timur,” ujar Catur Wiguna dalam jumpa pers di Klungkung, Kamis (12/3/2026).

Beban Tinggi Biaya Cuci Darah

Catur Wiguna menjelaskan, penyumbang angka tertinggi dalam pembiayaan jaminan kesehatan ini berasal dari pelayanan cuci darah atau hemodialisis. Berdasarkan data medis, rata-rata pasien membutuhkan layanan cuci darah minimal dua kali dalam seminggu dan dilakukan seumur hidup.

Kondisi ini menjadikan biaya pengobatan penyakit gagal ginjal sebagai salah satu beban katastropik terbesar yang ditanggung oleh negara melalui BPJS Kesehatan.

“Biaya persesi antara Rp 800 – Rp 1,5 juta tergantung kondisi pasien,” ujarnya.

Tren Mengkhawatirkan: Cuci Darah Sasar Anak-anak

Hal yang paling menjadi sorotan dalam paparan BPJS Kesehatan kali ini adalah pergeseran usia pasien. Jika sebelumnya pasien cuci darah didominasi oleh kelompok lanjut usia (lansia), kini tren tersebut mulai merambah ke usia yang jauh lebih muda.

“Dulu yang menjalani cuci darah biasanya sudah lanjut usia, tetapi fenomena sekarang sudah banyak dari kalangan anak-anak yang harus rutin melakukan cuci darah,” ungkapnya prihatin.

Pergeseran tren usia ini diduga kuat dipengaruhi oleh pola hidup dan pola makan yang tidak sehat sejak dini.

Pihak BPJS Kesehatan pun mendorong masyarakat untuk lebih mengedepankan upaya preventif dan deteksi dini guna menekan angka pertumbuhan penyakit tidak menular yang berujung pada kegagalan fungsi organ.

Meskipun terjadi defisit antara iuran dan klaim di wilayah Bali Timur, BPJS Kesehatan memastikan pelayanan bagi peserta tetap berjalan normal sesuai dengan prinsip gotong royong nasional, di mana subsidi silang antarwilayah menjadi penyeimbang keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). (Sta-Kab).

 

kabar Lainnya