KABARBALI.ID – Kelahiran Saniscara Kliwon Uye, atau yang lebih dikenal dengan hari suci Tumpek Kandang (Tumpek Uye), memiliki perpaduan karakter yang unik dan kontras. Di balik sosoknya yang tampak tenang dan bijaksana, tersimpan dinamika emosi yang kuat layaknya api.
Berdasarkan tinjauan wariga Bali, mereka yang lahir pada hari ini berada di bawah naungan Dewa Kuwera dan Lintang Rarung Pagelangan. Karakter utamanya adalah kepandaian dalam bertata susila serta kemampuan luar biasa dalam menarik simpati orang lain.
“Tindakannya tegas, tutur katanya halus dan menarik. Ia pandai sekali mengambil hati orang lain,” demikian petikan karakter utama Wuku Uye yang dikutip dari literatur wariga, Sabtu (7/2/2026).
Ditinjau dari Saptwara (Saniscara), mereka memiliki pikiran yang baik dan sering dijadikan tempat berlindung bagi orang di sekitarnya. Sifatnya yang ramah dan sopan santun yang terjaga (Sadwara: Paniron) menjadikannya pribadi yang dihormati dalam pergaulan sosial.
Meski demikian, sisi Astawara (Uma) memberikan sentuhan sifat pendiam dan sangat berhati-hati dalam menjaga diri. Hal ini sejalan dengan pengaruh Lintang Rarung Pagelangan yang membuat mereka cenderung reflektif, meski sesekali sering melamun atau merasa rendah diri.
Namun, bukan berarti tanpa celah. Kelahiran Tumpek Kandang memiliki tantangan besar dalam mengelola emosi. Pengaruh Sangawara (Urungan) melambangkan Agni atau api, yang membuat mereka cenderung cepat marah. Sifat ini diperkuat oleh Pancasuda (Tunggak Semi) yang terkadang memunculkan sisi angkuh dan sulit mengalah dalam pertikaian.
“Apa saja yang diinginkan jarang terkabul jika ia tidak bisa mengontrol kemarahannya. Rejekinya memang baik, tapi sifat cemburunya sangat kuat,” tulis ulasan watak tersebut.
Satu hal unik dari kelahiran ini adalah kecerdasannya yang menonjol (Dasawara: Raja). Mereka adalah tipe perencana yang ulung dan senang berpikir luas. Namun, pengaruh Wuku Uye membawa sifat bawaan yang unik: ingatan yang sering lupa.
Dalam zodiak modern, karakter ini bersinergi dengan Aquarius yang dikenal jujur dan kata-katanya bisa dipercaya. Kombinasi ini menghasilkan sosok sahabat yang loyal, meskipun secara spiritual (Ekajalaresi) mereka diingatkan untuk tetap bekerja keras agar terhindar dari kesulitan ekonomi. (Kab).