Libur “Maraton” Maret 2026: Nyepi Berdampingan dengan Lebaran, Siap-Siap Long Weekend 14 Hari

Pemerintah telah menetapkan jadwal libur nasional dan cuti bersama Nyepi 2026 pada 18-19 Maret, yang berdekatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H, memberikan kesempatan libur panjang bagi masyarakat.foto/gettyimages

KABARBALI.id – Maret 2026 menjadi momen yang paling dinanti oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Bali. Berdasarkan SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, kalender Maret menampilkan fenomena langka di mana Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Kombinasi hari raya ini menciptakan deretan “tanggal merah” yang sangat panjang. Pemerintah menetapkan Libur Nasional Nyepi pada 19 Maret 2026 dan Cuti Bersama pada 18 Maret 2026. Menariknya, jadwal ini langsung disambung dengan rangkaian libur Lebaran yang dimulai pada 20 Maret 2026.

Bagi para pekerja, momen ini menjadi kesempatan long weekend yang luar biasa. Ditambah dengan agenda Work From Anywhere (WFA) yang ditetapkan pemerintah, total durasi libur dan bekerja fleksibel ini bisa mencapai dua minggu penuh.

Filosofi Sunyi di Tengah Libur Panjang

Meski dibalut suasana libur panjang, Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu tetap menjadi momentum sakral untuk perenungan dan penyucian diri (Bhuana Alit) serta alam semesta (Bhuana Agung).

Filosofi Nyepi mengajarkan keheningan total melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Selama 24 jam, Bali akan benar-benar “berhenti”. Tidak ada lampu yang menyala (Amati Geni), tidak ada aktivitas kerja (Amati Karya), tidak ada perjalanan luar rumah (Amati Lelungan), dan tidak ada hiburan (Amati Lelanguan).

Jadwal Lengkap Long Weekend Maret 2026

Berikut rincian jadwal libur nasional, cuti bersama, dan agenda WFA menurut ketetapan pemerintah:

Rangkaian Tradisi Menuju Keheningan

Sebelum puncak Nyepi berlangsung, masyarakat Bali akan melaksanakan rangkaian upacara yang dimulai dari Melasti (penyucian sarana sembahyang ke laut), kemudian Mecaru (harmonisasi alam), dan Pengerupukan yang identik dengan pawai ogoh-ogoh untuk mengusir elemen negatif.

Rangkaian ditutup dengan Ngembak Geni, satu hari setelah Nyepi, di mana masyarakat mulai beraktivitas kembali dan biasanya digunakan untuk bersilaturahmi atau Dharma Santhi. (Kab).

kabar Lainnya