KABARBALI.id – Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata nomor satu dunia, Bali adalah sebuah permata tersembunyi yang hanya dikenal secara terbatas. Namun, pada periode 1920-an hingga 1940-an, sebuah gelombang artistik yang digerakkan oleh para seniman mancanegara mengubah segalanya. Melalui lukisan, catatan antropologis, dan musik, mereka membangun citra Bali sebagai “The Last Paradise” di mata Eropa dan Amerika.
Kehadiran para seniman ini bukan sekadar untuk berwisata. Mereka menetap, berinteraksi, hingga melakukan hibridasi seni yang menggabungkan estetika Barat dengan spiritualitas lokal. Dampaknya, Bali mengalami “Zaman Keemasan” seni yang hingga kini menjadi fondasi pariwisata budaya kita.
Berikut adalah sosok-sosok kunci yang jasanya abadi dalam sejarah pariwisata dan seni Bali:

Menetap di Ubud pada 1920-an, seniman asal Jerman ini adalah tokoh sentral. Spies bukan hanya melukis, ia juga mendokumentasikan musik dan tari. Berkat kolaborasinya dengan seniman lokal, ia berhasil memodernisasi gaya lukis Bali tanpa menghilangkan jiwanya. Dialah yang pertama kali menarik perhatian intelektual dunia untuk menoleh ke Bali.

Pelukis Belanda yang tiba akhir 1920-an ini memiliki peran strategis dalam pendidikan seni. Bersama Tjokorda Gede Agung Sukawati, ia mendirikan koperasi seniman Pita Maha. Bonnet-lah yang memperkenalkan teknik anatomi dan perspektif Barat kepada pelukis Bali, yang kemudian melahirkan gaya lukis Ubud yang ikonik. Ia juga membidani lahirnya Museum Puri Lukisan.

Melalui bukunya yang legendaris, Island of Bali (1937), seniman asal Meksiko ini memberikan uraian antropologis paling detail mengenai kehidupan masyarakat Pulau Dewata. Buku ini menjadi referensi utama warga dunia yang ingin mengenal Bali lebih dalam, mencakup seni, agama, hingga struktur sosial masyarakatnya.

Tiba di Bali tahun 1932, pelukis Belgia bergaya Impresionis ini jatuh cinta pada kecantikan penari Ni Pollok, yang kemudian menjadi istrinya. Karya-karyanya yang menangkap cahaya dan eksotisme pantai Sanur menjadi promosi visual yang sangat kuat di Eropa. Rumah tinggalnya kini diabadikan sebagai Museum Le Mayeur di Sanur.

Meskipun baru menetap pada 1950-an, Blanco menjadi sosok fenomenal yang mengangkat citra Bali lewat gaya surealisnya. Dikenal dengan sebutan “Dali Bali”, Blanco berhasil memposisikan Bali sebagai tempat di mana seni dan kebebasan berekspresi bertemu secara harmonis di atas bukit Campuhan. (Kab).