KABARBALI.ID – Di tengah gempuran isu mengenai privilege atau hak istimewa, banyak orang mulai pesimistis. Muncul anggapan bahwa miliarder baru hanya bisa lahir dari keluarga yang sudah mapan. Kerja keras dianggap sia-sia jika tidak dibarengi dengan modal yang melimpah sejak awal.
Namun, benarkah sukses hanya milik mereka yang beruntung sejak lahir? Jika kita menilik sejarah, banyak pengusaha kelas kakap yang justru mengawali langkahnya dari titik terendah. Di Indonesia, kita mengenal mendiang Bob Sadino yang mengawali karier sebagai penjual telur ayam keliling.
Di kancah global, sembilan nama berikut membuktikan bahwa tekad, keberanian membaca peluang, dan konsistensi bisa mengalahkan kemiskinan.

Lahir di Rusia Selatan dalam kemiskinan, Abramovich menjadi yatim piatu di usia dua tahun. Ia dibesarkan oleh pamannya di wilayah subarktik yang dingin. Siapa sangka, mahasiswa yang awalnya berjualan mainan plastik ini berhasil masuk ke industri minyak hingga mampu mengakuisisi klub raksasa Chelsea FC.

Hidup nomaden di gurun Suriah, Altrad tumbuh tanpa ibu dan sempat dilarang sekolah oleh neneknya. Saat merantau ke Prancis untuk kuliah, ia bahkan tidak bisa berbahasa Prancis dan hanya makan sekali sehari demi berhemat. Kini, Altrad Group adalah salah satu raksasa mesin konstruksi dunia.

Anak seorang bartender ini harus membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sebagai sales asuransi jiwa. Ketekunannya membuahkan hasil saat ia mendirikan Excel Communications pada 1988 yang kemudian laku terjual senilai 3,5 miliar dolar.

CEO legendaris Starbucks ini tumbuh di lingkungan kumiskinan yang membuatnya selalu merasa “di sisi lain pagar”. Berkat beasiswa sepak bola, ia berhasil kuliah dan akhirnya mengubah kedai kopi kecil menjadi raksasa dunia dengan lebih dari 16.000 outlet.

Orang tua Langone harus menggadaikan rumah agar ia bisa menempuh pendidikan di universitas. Perjuangan itu dibayar tuntas saat ia bermitra mendirikan Home Depot yang kini menjadi kiblat toko perlengkapan rumah global.

Dilahirkan dari keluarga miskin di Mississippi tidak menghentikan langkah Oprah. Ia memenangkan beasiswa dan menjadi koresponden TV Afrika-Amerika pertama di usia 19 tahun, sebelum akhirnya menjadi ratu talk show dunia.

Pernah tinggal di panti asuhan bahkan terjerat geng motor, DeJoria memulai bisnis John Paul Mitchell Systems dengan pinjaman hanya 700 dolar. Ia bahkan sempat tinggal di dalam mobil sambil berjualan sampo dari pintu ke pintu.

Dikirim ke panti asuhan karena ibunya tak sanggup merawat, Del Vecchio bekerja di pabrik cetakan onderdil kacamata sejak muda. Di usia 23 tahun, ia membuka toko sendiri yang kini menguasai merek global seperti Ray-Ban dan Oakley.

Melarikan diri dari pendudukan Nazi di Hongaria, Soros menyambung hidup di London sebagai pelayan dan porter kereta api. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di toko suvenir sebelum akhirnya sukses menjadi bankir dan miliarder di New York.
Sembilan nama di atas menunjukkan bahwa kualitas diri—kemampuan membaca peluang dan keberanian mengambil risiko—adalah modal yang lebih berharga daripada sekadar tumpukan uang warisan.
Kisah sukses dari nol bukanlah dongeng. Mereka adalah bukti hidup bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda siap menjadi pengusaha sukses berikutnya di masa sulit ini? (Kab).