KABARBALI.id – Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan pesta pora dan kembang api, Tahun Baru Saka yang dirayakan umat Hindu melalui Hari Raya Nyepi justru dimulai dengan keheningan. Tradisi yang telah bertahan ribuan tahun ini menyimpan sejarah panjang, mulai dari daratan India hingga meresap menjadi identitas unik masyarakat Bali.
Sistem penanggalan Saka sendiri resmi dimulai sejak tahun 78 Masehi. Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis matahari, Kalender Saka menggunakan sistem luni-solar (perpaduan matahari dan bulan). Hal inilah yang menyebabkan tanggal jatuhnya Nyepi selalu bergeser setiap tahunnya jika dikonversi ke penanggalan internasional.
Masuknya sistem penanggalan ini ke Nusantara tidak lepas dari jalur perdagangan dan penyebaran agama Hindu pada awal abad pertama. Kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai, Tarumanegara, hingga Majapahit menggunakan angka tahun Saka dalam berbagai prasasti kuno sebagai penanda waktu resmi kerajaan.
“Tradisi Tahun Baru Saka ini tetap bertahan dan mengakar kuat di Bali, bahkan setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa. Di Bali, Nyepi bertransformasi menjadi sebuah ritual penyucian diri yang sangat spesifik,” tulis literatur sejarah keagamaan Bali.
Menariknya, perayaan Tahun Baru Saka di India tidak selalu identik dengan konsep “hari sunyi” total. Perkembangan Nyepi di Bali merupakan hasil akulturasi budaya lokal yang luar biasa. Konsep penghentian total aktivitas selama 24 jam merupakan ciri khas yang hanya ditemukan di Pulau Dewata.
Rangkaian ritual seperti Melasti, Tawur Kesanga, hingga pawai Ogoh-ogoh yang semarak di malam pengerupukan, sebenarnya adalah persiapan mental dan spiritual menuju titik nol (keheningan). Hasil perpaduan ajaran Hindu dan kearifan lokal Bali inilah yang membuat Nyepi diakui dunia sebagai salah satu perayaan keagamaan paling unik dan sakral.
Kini, Nyepi 2026 bukan sekadar hari libur nasional, melainkan momentum bagi dunia untuk sejenak “beristirahat”, membiarkan alam memulihkan diri, dan manusia kembali menemukan jati dirinya dalam kesunyian. (Kab).