Nyepi Saka 1948 Momentum Introspeksi, Ketua DPRD Klungkung Ajak Krama Disiplin Jaga Kesucian Hari Raya

Ketua DPRD Klungkung, Anak Agung Gde Anom

KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis (19/3/2026) menjadi momentum sakral untuk penyucian diri (Bhuana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung).

Ketua DPRD Klungkung, Anak Agung Gde Anom, mengajak seluruh masyarakat untuk benar-benar menghayati esensi keheningan total melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Menurutnya, Nyepi bukan sekadar ritual rutin, melainkan bentuk transformasi batin untuk memasuki tahun baru dengan jiwa yang bersih berdasarkan ajaran Tri Hita Karana.

“”entingnya mulat sarira atau refleksi diri untuk melepaskan hawa nafsu dan beristirahat dari aktivitas duniawi,”Ujarnya Rabu (18/3/2026).

Sentil Kedisiplinan dan Toleransi

Gung Anom memberikan catatan keras terkait kedisiplinan umat dalam menjalankan aturan Nyepi, terlebih tahun ini pelaksanaannya berdekatan dengan persiapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H bagi umat Muslim.

“Kita yang punya hari raya, jangan sampai kita sendiri yang melanggar dengan berkeluyuran di jalan tidak jelas. Sementara kita membuat aturan untuk tidak takbiran keluar rumah bagi umat Muslim menjelang perayaan Idul Fitri. Mari kita tunjukkan kedewasaan dalam beragama,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa menjaga ketertiban selama Nyepi adalah bentuk penghormatan terhadap kesucian hari raya sekaligus wujud toleransi nyata di tengah keberagaman masyarakat Bali.

Perkuat Filosofi Catur Brata Penyepian

Politisi asal Puri Akah ini juga mengajak masyarakat untuk kembali menguatkan pemahaman filosofis terhadap empat pantangan utama dalam Catur Brata Penyepian:

  1. Amati Geni: Tidak menyalakan api fisik maupun api dalam diri (amarah dan hawa nafsu).
  2. Amati Karya: Berhenti dari kesibukan fisik untuk memusatkan pikiran pada penyucian rohani.
  3. Amati Lelungan: Berdiam diri di rumah untuk melakukan kontemplasi dan mawas diri.
  4. Amati Lelanguan: Melepaskan kesenangan duniawi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Melalui keheningan total ini, diharapkan setiap individu mampu menemukan keseimbangan dan harmoni dalam hidup.

“Mari kita jadikan momen ini sebagai jembatan untuk memperbaiki kualitas diri dan mempererat kerukunan antar sesama,” pungkasnya. (Sta-Kab).

kabar Lainnya