Pagerwesi, Tradisi Beda antara Buleleng dan Bali Selatan.. Kenapa ?

Hari raya Hindu Bali. (Photo by Victor LOCHON/Gamma-Rapho via Getty Images)

KABARBALI.ID – Tepat pada hari ini, Rabu (Buda) Kliwon Sinta, 8 April 2026, umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Pagerwesi. Jatuh setiap 210 hari sekali, Pagerwesi bukan sekadar ritual rutin, melainkan momentum bagi umat untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru—guru alam semesta yang menurunkan ilmu pengetahuan suci (Weda).

Secara etimologi, Pagerwesi berasal dari kata Pager (pagar/pembatas) dan Wesi (besi). Ini menyimbolkan perlunya benteng spiritual yang kokoh agar jiwa manusia tidak tergoyahkan oleh pengaruh negatif, setelah sebelumnya menerima anugerah ilmu pengetahuan pada hari suci Saraswati.

Buleleng vs Bali Selatan: Perbedaan yang Memperkaya Budaya

Ada fenomena unik yang selalu menarik perhatian setiap Pagerwesi tiba, yaitu perbedaan intensitas perayaannya antara wilayah Bali Utara (Buleleng) dengan wilayah Bali Selatan.

Bali Utara (Buleleng): Kemeriahan Setara Galungan Di Buleleng, Pagerwesi yang sering disebut dengan istilah “Pegorsi” adalah hari raya yang sangat utama, bahkan kemeriahannya disejajarkan dengan Hari Raya Galungan.

  • Pulang Kampung: Suasana di Buleleng akan sangat padat karena para perantau biasanya wajib pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga besar.

  • Otonan Jagat: Masyarakat setempat meyakini Pagerwesi adalah Otonan Jagat. Persiapannya pun sangat sibuk, mulai dari pembuatan penjor hingga hidangan khas hari raya.

  • Tradisi Memunjung: Salah satu ciri khas paling menonjol di Buleleng adalah ritual Memunjung ke Setra (Kuburan). Keluarga yang memiliki kerabat yang meninggal namun belum diaben (nyekah), akan datang ke kuburan membawa sesajen, dilanjutkan dengan makan bersama keluarga di area setra.

Bali Selatan: Khidmat dalam Kesederhanaan Berbeda dengan di Utara, masyarakat di Bali Selatan merayakan Pagerwesi dengan lebih sederhana namun tetap khidmat. Fokus persembahyangan dipusatkan di Sanggah atau Pemerajan (pura keluarga) serta Pura Desa. Perayaan di sini lebih menekankan pada aspek meditasi dan penguatan iman di dalam hati tanpa kemeriahan fisik yang menonjol seperti Galungan.

Filosofi di Balik Perbedaan: Kekuatan “Dresta”

Perbedaan mencolok ini bukanlah sebuah pertentangan, melainkan perwujudan dari konsep Desa Loka Dresta (kebiasaan setempat). Berdasarkan kitab Manawa Dharma Sastra, agama Hindu di Bali sangat menghargai tradisi yang berlaku turun-temurun (Purwa Dresta).

“Perbedaan pelaksanaan di Buleleng dengan daerah lain adalah kultur yang memperkaya khasanah budaya Bali. Intinya tetap sama: memuja keagungan Tuhan sebagai Guru Swadyaya untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin (Moksartam Jagadhita),” tulis tinjauan teologi Hindu.

Rangkaian Menuju Pagerwesi

Pagerwesi merupakan puncak dari rangkaian hari suci sebelumnya:

Dengan merayakan Pagerwesi, umat Hindu diharapkan memiliki keteguhan hati yang luar biasa, sekuat pagar besi, dalam menerapkan ajaran Dharma di kehidupan sehari-hari. (Kab-berbagai Sumber). 

kabar Lainnya