GIANYAR, KABARBALI.ID — Lonjakan tajam harga logam mulia kembali menghantam sektor kerajinan tradisional Bali.
Setelah emas melonjak, kini harga perak melambung lebih dari 600 persen, dari sebelumnya sekitar Rp12.000 per gram menjadi kisaran Rp70.000 per gram, dan berpotensi terus naik.
Kondisi ini berdampak serius bagi ribuan perajin perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Sentra kerajinan perak yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi warga kini mulai lengang.
Banyak perajin terpaksa menghentikan produksi karena tidak mampu menanggung tingginya biaya bahan baku.
“Kami sering menghadapi fluktuasi harga, tapi tidak separah sekarang,” ujar Ketua Celuk Design Centre (CDC), Made Megayasa, Kamis (29/1/2026).
Menurut Megayasa, situasi ini menjadi ironis karena terjadi di tengah upaya kebangkitan perajin muda Celuk, terutama setelah desa tersebut memperoleh pengakuan Indikasi Geografis (IG) sebagai sentra kerajinan perak khas Bali.
Kenaikan harga perak mulai dirasakan sejak Oktober 2025 dan telah berlangsung selama sekitar empat bulan.
Selama periode tersebut, sebagian perajin memilih menunda produksi dengan harapan harga kembali stabil, sementara sebagian lainnya mencoba bertahan melalui inovasi.
“Beberapa perajin mulai beralih ke bahan selain perak, ada juga yang terpaksa menaikkan harga jual beberapa kali agar tetap bisa berproduksi,” jelasnya.
Namun, strategi tersebut belum mampu menyelamatkan usaha secara menyeluruh. Daya beli konsumen menurun, baik dari pasar wisatawan maupun ekspor. Akibatnya, pesanan merosot tajam dan tidak sedikit perajin memilih berhenti bekerja sementara.
Meski harga perak saat ini belum menyentuh angka ekstrem seperti Rp700.000 per gram sebagaimana kekhawatiran yang beredar, tren kenaikan yang terus berlanjut tetap memicu kecemasan. Jika kondisi ini berlarut-larut, keberlangsungan kerajinan perak Celuk sebagai identitas budaya dan sumber penghidupan masyarakat dinilai berada dalam ancaman serius.
Para perajin pun berharap adanya perhatian dan solusi konkret dari pemerintah serta pemangku kepentingan, agar warisan kerajinan perak Bali tidak semakin terpuruk di tengah gejolak harga logam mulia dunia. (Tut-Kab).