KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Jejak sejarah satu abad berdirinya Gelung Kori (Candi Kurung) Banjar Sangging, Desa Kamasan, diperingati dengan megah dan penuh makna, Minggu (8/3/2026). Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat untuk merefleksikan kejayaan seni dan budaya yang telah terjaga selama seratus tahun.
Hadir langsung dalam perhelatan tersebut, Bupati Klungkung I Made Satria didampingi Ketua TP-PKK Ny. Eva Satria dan Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra. Peringatan yang mengusung tema “SATABDA GAMBHIRYA DVARA PRASADA – Tampak Jejak Satu Abad Keagungan Kori” ini ditandai secara simbolis dengan pelepasan busur panah oleh Bupati Satria ke arah Gelung Kori yang berdiri kokoh di depan Balai Banjar Adat Sangging.
Visi Festival Desa Kamasan
Dalam sambutannya, Bupati Satria memberikan apresiasi tinggi terhadap Desa Kamasan yang telah dikenal dunia berkat lukisan wayang tradisional dan kerajinan emas-peraknya. Namun, ia menilai potensi besar ini perlu wadah promosi yang lebih terorganisir.
Bupati secara khusus mendorong agar ke depan Desa Kamasan memiliki agenda festival tahunan sendiri, yakni Festival Desa Kamasan.
“Dengan adanya festival ini, diharapkan dapat memberikan manfaat serta dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Saya ingin kekayaan seni, budaya, dan potensi ekonomi kreatif di sini ditampilkan secara khusus dalam satu panggung besar,” ujar Bupati Satria.
Regenerasi Lewat ST. Adi Manggala
Peringatan satu abad ini juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Sekaa Teruna (ST) Adi Manggala sekaligus perayaan HUT ke-46 organisasi pemuda tersebut. Bupati berharap para pemuda menjadi motor inovasi dalam melestarikan warisan leluhur.
“Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dengan berbagai inovasi dan ragam acara yang semakin menarik di masa mendatang,” imbuhnya.
Kemeriahan Budaya dan Ekonomi Kreatif
Rangkaian acara berlangsung semarak dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari lomba gebogan yang dirangkaikan dengan mepeed aya, lomba mewarnai pemedal, fashion show, hingga lomba membuat pejati dan sate kuum.
Tak hanya seni tradisi, acara ini juga menghadirkan pameran ekonomi kreatif dan kuliner lokal yang menyedot antusiasme warga serta wisatawan yang tengah berkunjung ke desa wisata tersebut. (Sta-Kab).