KABARBALI.ID – Sebuah misi penyelamatan warisan budaya berskala internasional tengah berlangsung di Basel, Swiss. Melalui Proyek Arsip Musik Basel-Bali, ribuan rekaman audio dan video langka musik ritual tradisional Bali dari era 1940-an hingga 1990-an kini tengah didigitalisasi untuk dikembalikan kepada masyarakat Bali.
Proyek yang diprakarsai oleh etnomusikolog senior, Dr. Danker Schaareman, ini bertujuan menyediakan akses publik terhadap rekaman asli musik ritual tujuh nada yang kian langka, seperti Gamelan Gambang, Selunding, Caruk, dan Gong Luang/Saron.
“Tujuannya adalah menyediakan materi audio dan visual yang kaya dari Institut Musikologi Universitas Basel bagi masyarakat Bali yang prihatin atas hilangnya repertoar musik ritual tradisional mereka,” ungkap Dr. Schaareman dikutip kabarbali.id dari akun yotutubenya @Danker Schaareman. https://www.youtube.com/watch?v=q07oCmS0Gvw
Kisah arsip ini bermula dari Ernst Schlager (1900-1964), seorang ahli kimia Swiss yang terpesona oleh musik Bali. Saat pecah Perang Dunia II, Schlager ditahan oleh Jepang di Bali (1942). Meski tidak boleh keluar pulau, ia bebas bergerak di dalam Bali dan mulai merekam melodi-melodi sakral selunding dan gambang bersama pelukis Theo Meier.
Setelah Schlager wafat, manuskrip dan rekamannya dilanjutkan oleh Hans Oesch melalui riset besar tahun 1972-1974 yang melibatkan tim ahli etnomusikologi dunia. Koleksi ini dianggap sebagai salah satu dokumentasi musik Bali paling lengkap dan otentik di dunia.
Selama beberapa dekade terakhir, penggunaan musik ritual tujuh nada di Bali dilaporkan menurun drastis. Faktor utamanya adalah metode pengajaran yang tidak memadai, instrumen yang rusak, hingga hilangnya manuskrip musik yang berisi melodi sakral.
Namun, Dr. Schaareman melihat tren positif belakangan ini. “Saat ini saya melihat peningkatan minat pada musik ritual yang diperlukan untuk pelaksanaan upacara desa. Materi ini akan membantu mereka memulihkan dan menghidupkan kembali warisan penting dalam adat dan agama,” tambahnya.
Saat ini, sebagian besar materi berharga tersebut tengah dalam proses digitalisasi. Untuk sementara waktu, Dr. Schaareman bermaksud mengunggah rekaman-rekaman tersebut ke platform YouTube agar mudah diakses oleh para seniman dan akademisi di Bali.
“Jika berhasil, semua materi akan dipindahkan ke situs web tersendiri yang berisi katalog lengkap, film, foto, hingga bagian dokumenter yang dapat dicari,” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda Bali untuk “mendengar kembali” suara masa lalu dan menghidupkannya lagi di pura-pura dan desa adat di seluruh Bali.
| Era Rekaman | Peneliti / Kolektor | Jenis Koleksi |
| 1940 – 1950-an | Ernst Schlager & Theo Meier | Rekaman paling awal (Selunding & Gambang) |
| 1968 & 1974 | Hans Oesch | Rekaman tambahan riset Universitas Basel |
| 1972 – 1974 | Tim Gabungan (Ramseyer, Seebass, dll) | Koleksi audio-video terbesar |
| 1980 – 1990 | Danker Schaareman | Musik ritual tujuh nada kontemporer |
(Kab).