DENPASAR, KABARBALI.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali resmi memulai babak baru. Usai dikukuhkan untuk masa hikmat 2025-2030, pengurus langsung tancap gas menggelar Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) I di Hotel Harris Cokroaminoto, Denpasar, Sabtu (28/2/2026).
Dalam momen krusial ini, Ketua Bidang Infokom MUI Pusat, KH. Masduki Baidlowi, melontarkan peringatan keras mengenai perubahan zaman yang mendisrupsi dunia dakwah.
Dakwah ‘Baby Boomer’ Sudah Usang?
Masduki memaparkan data mengejutkan: sekitar 64% penduduk Indonesia kini didominasi generasi milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha yang merupakan digital native. Menurutnya, metode dakwah lama ala Baby Boomer tidak akan lagi mempan menjangkau anak muda yang kritis.
“Otoritas keagamaan mulai bergeser dari sosok ulama secara fisik ke sistem algoritma di media sosial. MUI Bali harus mengadopsi metodologi dakwah digital agar tidak ditinggalkan generasi muda,” tegas mantan anggota DPR RI tersebut.
Ia mengingatkan bahwa MUI adalah “tenda besar” bagi seluruh umat Islam, termasuk 30 persen warga Muslim yang tidak bernaung di bawah ormas seperti NU atau Muhammadiyah.
Sentil Eksklusivisme: “Jangan Pancing Radikalisme”
Berada di Bali dengan populasi Muslim sekitar 10% (500 ribu jiwa), Masduki meminta umat Islam menjadi bagian integral dari ekosistem masyarakat lokal. Ia memuji kearifan lokal seperti sistem Subak sebagai model gotong royong yang sejalan dengan nilai Islam.
“Jangan membangun komunitas yang eksklusif karena itu bisa memicu radikalisme. Kita harus menyatu, bekerja sama secara ekonomi, dan membangun kerukunan secara evolusioner,” pesannya.
Gubernur Koster: Ulama Harus Sejukkan Bali
Senada dengan MUI Pusat, Gubernur Bali Wayan Koster—dalam sambutan yang dibacakan Asisten 1 Pemprov Bali, Dewa Mahendra Putra—menitipkan pesan vital terkait keamanan Bali sebagai destinasi wisata dunia.
“Saya memohon kepada para ulama untuk memberikan narasi yang menyejukkan dan mempersatukan untuk mencegah radikalisme. Mari jaga keamanan Bali, karena pariwisata sangat tergantung pada kenyamanan,” seru Koster.
Tak hanya soal keamanan, Koster juga menantang MUI Bali untuk membumikan ekonomi syariah yang bersinergi langsung dengan UMKM lokal di Pulau Dewata.
Gas Pol dengan Pola Modern
Ketua MUI Bali terpilih, KH. Mahrusun Hadiyono, menyambut tantangan tersebut dengan instruksi tegas kepada jajarannya. Ia meminta pengurus baru untuk mengakselerasi program kerja dengan pola modern.
“Metode kerja ulama sebagai khadimul ummah (pelayan masyarakat) harus beradaptasi dengan teknologi canggih,” ujar Mahrusun.
Sebagai langkah nyata, Ketua Panitia Feri Hendri melaporkan bahwa Mukerda I ini langsung menelurkan kerja sama strategis (MoU) dengan BUMN seperti Bulog dan Pegadaian Syariah demi mewujudkan kesejahteraan umat yang berkeadilan di Bali. (Naf-Kab).